Jakarta: Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Yusuf Ryadi, angkat bicara soal fenomena remaja yang ramai-ramai menghujat seorang ibu yang berjualan secara live di salah satu platform media sosial. Yusuf menilai fenomena tersebut mencerminkan kualitas interaksi masyarakat.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan interaksi positif, tetapi justru sering dipakai sebagai sarana melampiaskan agresi dan emosi negatif.
“Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius bagi masyarakat. Fenomena ini harus dipahami sebagai isu serius yang menuntut perhatian kolektif dan perlu kita hadapi bersama,” ujar Yusuf dalam keterangan tertulis dikutip Kamis, 26 Juni 2026.
Yusuf menyebut remaja yang mudah menghujat di media sosial mengalami proses psikologis masa perkembangan berupa kontrol emosi dan pengendalian diri yang belum matang. Sifat media sosial yang anonim dan instan membuat mereka merasa aman mengekspresikan kata-kata kasar secara spontan lewat kolom komentar tanpa konsekuensi langsung.
“Anak yang terbiasa melakukan bullying berisiko tumbuh dengan pola komunikasi kasar, sulit membangun hubungan sehat, dan bahkan bisa mengalami masalah psikologis seperti kecemasan sosial atau kesulitan beradaptasi di dunia nyata,” ujar dia.
Dari sisi korban, serangan verbal digital di luar ekspektasi ini berisiko memicu guncangan emosional, stres, rasa cemas, dan menurunkan kepercayaan diri. Korban bisa merasa terisolasi, takut tampil kembali, atau ragu melanjutkan aktivitas yang sebelumnya ia lakukan dengan penuh harapan.
“Pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena mereka lebih rentan secara emosional dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial di ruang digital. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif yang terjadi terus-menerus ini dapat meninggalkan luka psikologis berupa trauma, rasa malu, atau menarik diri dari lingkungan sosial,” ujar Yusuf.
Dia menegaskan strategi penanggulangan harus difokuskan pada aspek psikologis dan sosial secara kolektif. “Remaja perlu dibekali literasi digital yang menekankan etika berkomunikasi di ruang publik,” ungkap dia.
Edukasi harus menekankan pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain. Melalui pembelajaran di sekolah, keluarga, maupun komunitas, remaja dapat dilatih untuk melihat media sosial sebagai sarana membangun interaksi positif, bukan tempat melampiaskan emosi atau mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain.
Dari sisi komunitas, masyarakat harus bergerak membangun norma sosial baru yang menghapus budaya perundungan dan diskriminasi. “Dukungan kolektif berupa limpahan komentar positif, pembelaan terhadap korban, serta pelaporan konten perundungan secara massal sangat dibutuhkan untuk menciptakan tekanan sosial, sehingga tindakan menghujat tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar,” ujar dia.
Secara kelembagaan, platform digital, media sosial, dan institusi pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk ekosistem yang sehat. Moderasi konten, kampanye literasi digital, serta pendidikan etika komunikasi harus berjalan beriringan.
“Dengan pendekatan kolektif ini, fenomena hujatan di media sosial akan dianggap sebagai isu bersama yang menuntut solidaritas sosial dan regulasi yang tegas,” ujar dia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan