Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Pengamat: Lebih Elegan, Rektor ITK Baiknya Mengundurkan Diri

Pendidikan rasisme Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi Rektor ITK
Citra Larasati • 05 Mei 2022 17:09
Jakarta:  Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto menilai sudah sewajarnya jika rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengundurkan diri tanpa perlu desakan dari pihak manapun.  Sikap ini merupakan bagian dari tanggung jawab dirinya sebagai intelektual yang seharusnya menjadi bagian dari pilar penjaga kebinekaan.
 
Totok menyesalkan isi unggahan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartiko yang menyampaikan hal rasis secara terbuka di media sosial.  Menurut Totok, setiap pejabat publik terlebih lagi akademisi dan intelektual seharusnya mampu menjaga lisan dan tindakannya agar tidak melukai perasaan masyarakat dan kebinekaan. 
 
"Saya pikir Pak Rektor kurang arif bijaksana dalam hal ini," kata Totok kepada Medcom.id, Kamis, 5 Mei 2022. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Totok, sebagai pejabat publik harus mampu menjaga ucapan dan tindakannya.    "Siapapun sebaiknya menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak melukai perasaan masyarakat kita yang majemuk ini," terangnya.
 
Terlebih lagi sebagai akademisi, kata Totok, prinsip saring sebelum sharing harusnya dipegang teguh di era serba media sosial seperti saat ini.  "Benar kita ini negara bebas, siapapun boleh mengemukakan pendapat.  Namun, isi pendapat itu harus ditakar dengan baik agar tercapai tujuannya tanpa membuat banyak orang tersinggung.  Apalagi dalam kasus ini, pendapat itu tidak hanya disampaikan oleh orang awam, melainkan akademisi dan pimpinan perguruan tinggi," tegasnya.
 
Menurutnya, unggahan seperti itu seolah-olah bukan berasal dari akademisi yang semestinya menjadi salah satu penjaga pilar kebinekaan.  "Jadi, pendapat ini terasa seperti datang dari buzzer, bukan dari intelektual.  Saya setuju bila yang bersangkutan mengakui salah dan meminta maaf, dan sebagai bentuk tanggung jawab menyatakan mengundurkan diri.  Ini yang elegan, tidak perlu didesak untuk mundur," terangnya. 
 
Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengapresiasi sikap tegas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terhadap Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartika. Budi melontarkan tulisan rasis di media sosialnya.
 
"Terima kasih @kemenpendidikan telah memecatnya sebagai reviewer LPDP," kata Cholil dalam cuitan di akun Twitter @cholilnafis dikutip Kamis, 5 Mei 2022.
 
Namun, Cholil menilai Budi mesti mendapat sanksi lebih besar. Dia meminta Budi dipecat sebagai rektor.
 
Media sosial ramai membicarakan Rektor ITK Budi Santosa Purwokartika. Tulisannya di media sosial dinilai menyinggung suku, agama, ras, antargolongan (SARA).
 
Dalam postingannya, Budi mengungkapkan mewawancarai mahasiswa yang akan berangkat ke luar negeri. Dia memuji kemampuan akademis maupun soft skills kandidat.
Namun, pada bagian akhir, dia memberi stigma bersifat SARA.
 
Baca juga:  Ketua MUI Minta Budi Santosa Diberhentikan Sebagai Rektor ITK
 
"Jadi, 12 mahasiswa yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open minded. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat, dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi," tulis Budi.
 
Tulisan itu menuai banyak kritik dan komentar. Budi dianggap menghakimi suatu golongan.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif