Kampus Unpad. Foto: Unpad/Humas
Kampus Unpad. Foto: Unpad/Humas

Kualitas Kuliah Hybrid Harus Tetap Dijamin Sama dengan PTM

Citra Larasati • 04 Februari 2022 17:46
Jakarta:  Penyelenggaraan sistem pembelajaran hybrid atau bauran antara daring dan luring di perguruan tinggi saat ini dipastikan harus terjamin mutunya.  Kualitas pembelajaran hybrid harus sama atau bahkan lebih baik daripada pembelajaran tatap muka.
 
Pelaksana Tugas Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktiristek, Kemendikbudristek, Kiki Yulianti menyampaikan sejumlah tantangan yang dihadapi harus dapat mengukur mutu pembelajaran hybrid. Tantangan pertama adalah memastikan partisipasi mahasiswa dalam proses perkuliahan.
 
“Kalau kita kuliah tatap muka biasa, kita bisa memperhatikan bahasa tubuh mahasiswa dan dapat menggiring kelas untuk fokus. Sementara ketika menggelar sinkronous, kita harus memastikan pembelajaran berlangsung maksimal,” ujar Kiki dalam acara diskusi “Penerapan Standar Mutu Pembelajaran yang Mengkombinasikan Daring dan Tatap Muka di Kelas” secara daring, Jumat, 4 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tantangan selanjutnya adalah ketidaksiapan konten untuk dikirim secara daring. Kiki menuturkan, salah satu persoalan yang terjadi terletak pada hak kekayaan intelektual.
 
Masih banyak dosen yang belum saksama memperhatikan konten yang diberikan berkaitan dengan hak kekayaan intelektual orang lain.  Karena itu, dosen didorong tidak hanya mengkreasikan konten yang baik, tetapi juga memperhatikan berbagai konten milik orang lain yang diambil.
 
Mengenai konten, dosen juga didorong mengembangkan bahan ajarnya secara kreatif dan inovatif. Sistem pembelajaran hybrid harus tetap dipastikan dapat mencapai kolaboratif dan partisipasi aktif mahasiswa (student centered learning).
 
Tantangan selanjutnya adalah kurangnya titik akses teknologi modern. Dosen acapkali sulit memastikan kapan mahasiswa dapat mengakses suatu layanan daring.
 
“Kita harus punya tools yang bisa memperkirakan itu sehingga jaringan kita bisa lebih siap,” imbuhnya.
 
Baca juga:  Angka Covid-19 Melonjak, Kota Malang Mulai Terapkan PTM 50%
 
Ditjen Diktiristek sendiri tengah menyusun Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN Dikti) terbaru. Pada standar terbaru dinyatakan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dilakukan dalam tiga model, yaitu jarak jauh, tatap muka, dan blended (bauran).
 
Untuk itu, Ditjen Diktiristek melalui SN Dikti terbaru akan meminta setiap perguruan tinggi menyiapkan akses memadai bagi pembelajaran sepanjang waktu, baik bagi dosen dan mahasiswa di manapun mereka berada.
 
“Perguruan tinggi harus menjamin akses pembelajaran, baik dosen dan mahasiswa dari manapun mereka berada bisa dilakukan sepanjang waktu. Artinya jika ada perpustakaan yang masih belum mengizinkan akses dari luar kampus, mestinya kita harus atur sedemikian rupa,” paparnya.
 
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif