Pakar Gunung Api Universitas Padjadjaran (Unpad) Nana Sulaksana. DOK Unpad
Pakar Gunung Api Universitas Padjadjaran (Unpad) Nana Sulaksana. DOK Unpad

Pakar Gunung Api Unpad Pertanyakan Lambatnya Sistem Peringatan Dini Saat Erupsi Semeru

Renatha Swasty • 05 Desember 2022 11:59
Jakarta: Gunung Semeru kembali erupsi pada Minggu, 4 Desember 2022. Pakar Gunung Api Universitas Padjadjaran (Unpad) Nana Sulaksana mempertanyakan sistem peringatan dini (early warning system) dalam memantau aktivitas gunung tertinggi di Jawa tersebut.
 
Nana menjelaskan erupsi Gunung Semeru kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada 2021, banjir lahar akibat erupsi Semeru dipicu persentuhan aktivitas vulkanik dengan cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
 
“Erupsi kali ini betul-betul proses erupsi akibat naiknya magma,” kata Nana dikutip dari laman unpad.ac.id, Senin, 5 Desember 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, erupsi gunung berapi bukan peristiwa luar biasa. Gunung Semeru masih berstatus siaga (level III) sejak 16 Desember 2021. Kenaikan status Semeru menjadi awas (level 4) terjadi pada Minggu, 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB. Padahal, kata Nana, erupsi Semeru sudah terjadi mulai pukul 03.00 WIB pada Minggu.
 
“Ini menurut saya adalah masalah. Sebab kehadiran instansi vulkanologi itu justru untuk memberikan peringatan sedini mungkin sebelum letusan terjadi, berdasarkan hasil pengamatan pemantauan melalui pos pengamatan yang ada,” tutur dia.
 
Nana mempertanyakan optimalisasi sistem peringatan dini sebelum erupsi Semeru terjadi. Sistem peringatan dini sebaiknya dikeluarkan sedini mungkin sebelum erupsi terjadi sampai ke masyarakat, sehingga proses evakuasi lebih cepat.
 
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Unpad itu mempertanyakan apakah setiap daerah sudah diberikan otonomi mengurus pemantauan kegunungapian. Otonomi ini diperlukan agar penyampaian informasi peringatan dini ke masyarakat menjadi lebih cepat.
 
“Sebagai contoh kita lihat penaikan status itu gunung api itu oleh instansi pusat. Artinya ada rentang birokrasi laporan dari pos pengamatan yang notabene ada di daerah sekitar Semeru, lapor ke kepala vulkanologi terus ke atas lagi ke Badan Geologi, itu terlalu jauh,” kritik dia.
 
Nana mengatakan sistem peringatan dini yang optimal juga perlu didukung oleh sarana dan sumber daya manusia. Seperti ketersediaan pos dan peralatan pengamatan hingga dukung ahli vulkanologi yang secara spesifik mengetahui seluk beluk karakter dari satu gunung berapi dan mau bekerja di wilayah pengamatan.
 
“Dulu mungkin sekolah geologi belum banyak, sekarang sudah puluhan program studi teknik geologi menyebar di Indonesia,” tutur dia.
 
Nana juga mendorong peta detail mengenai aliran lahar. Dia menyebut material erupsi menumpuk di tubuh gunung berapi yang berupa endapan awan panas ditambah cuaca ekstrem sangat rentan terjadi luapan lahar panas maupun dingin.
 
“Pemetaan potensi lahar panas dan dingin harus selalu di-update,” tegas dia.
 
Baca juga: Gempa Cianjur Disebut Akibat Sesar Cimandiri, Yuk Kenali Sesar Gempa

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif