Farid Azhar, wisudawan terbaik Untidar periode ke-75 yang mengembangkan game Roblox sebagai media pembelajaran matematika. Foto: Dok. Untidar.
Farid Azhar, wisudawan terbaik Untidar periode ke-75 yang mengembangkan game Roblox sebagai media pembelajaran matematika. Foto: Dok. Untidar.

Wisudawan Terbaik Untidar Lulus Tanpa Skripsi, Modifikasi Roblox untuk Belajar Matematika

Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 Oktober 2026 10:51
Ringkasnya gini..
  • Farid Azhar menjadi wisudawan terbaik Untidar dengan IPK 3,99 dan lulus tanpa skripsi melalui jalur publikasi ilmiah.
  • Farid mengembangkan modifikasi Roblox sebagai media belajar matematika sekaligus mengenalkan candi-candi di Magelang.
  • Lulusan Pendidikan Matematika Untidar itu kini telah menjadi guru tetap di salah satu SMA swasta di Kota Magelang.
Jakarta: Farid Azhar memiliki cara berbeda dalam menyelesaikan pendidikan sarjananya. Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tidar (Untidar) tersebut lulus tanpa skripsi dan justru menempuh jalur publikasi artikel ilmiah.

Farid menjadi wisudawan terbaik pada Wisuda Untidar periode ke-75. Ia berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99 dan menyelesaikan kuliah dalam waktu 3 tahun 9 bulan 8 hari.

Dilansir dari laman resmi Untidar, Farid menyelesaikan studinya melalui jalur publikasi artikel ilmiah yang terbit di jurnal terindeks Sinta 2. Artikel tersebut berjudul “Development Of Geoarcala Roblox Game Integrating Ethnomathematics Of Magelang Temples To Enhance Critical Thinking Ability.”

Penelitian tersebut memanfaatkan game Roblox sebagai media pembelajaran matematika sekaligus memperkenalkan sejumlah candi yang berada di wilayah Magelang.

“Game Roblox populer di kalangan anak sekolahan. Hal ini menginspirasi untuk membuat modifikasi game ini dengan matematika, khususnya matematika sambil mengenalkan candi-candi di wilayah Magelang,” ujar Farid.

Belajar Matematika Lewat Game Roblox

Dalam game yang dikembangkan Farid, siswa diajak berpetualang mengunjungi sejumlah candi di Magelang. Di setiap lokasi, mereka harus menyelesaikan tugas berupa soal matematika.

Game tersebut memuat konsep geometri, salah satunya mengenai bangun tabung. Media pembelajaran itu juga telah diuji coba kepada siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Salaman.

Menurut Farid, penggunaan game diharapkan membuat siswa mempelajari matematika dengan cara yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan hal yang mereka sukai.

“Siswa diajak mempelajari matematika dengan cara yang mereka sukai atau menyenangkan,” katanya.

Pilihan untuk menekuni Pendidikan Matematika juga tidak sepenuhnya direncanakan sejak awal. Farid merupakan lulusan SMK Negeri 1 Magelang dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Ia memilih melanjutkan pendidikan di bidang matematika setelah mendapat saran dari gurunya.

“Dulu sih karena saran guru matematika, katanya aku pintar matematika suruh lanjut kuliah dan ambil prodi matematika aja,” tutur Farid.

Untidar menjadi pilihan satu-satunya karena merupakan perguruan tinggi negeri yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Farid mengatakan dirinya tidak ingin tinggal di kos selama kuliah.
 

Menjadi Sarjana Pertama di Keluarga

Di balik pencapaiannya sebagai wisudawan terbaik, Farid juga mendapat dukungan dari keluarganya. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ibunya merupakan ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya bekerja sebagai montir di sebuah bengkel.

Selama menjalani perkuliahan, Farid mengaku selalu mendapat dukungan dan doa dari orang tuanya. Ia juga merupakan penerima beasiswa KIP Kuliah.

Salah satu pesan dari sang ibu yang terus diingat Farid adalah agar ilmu yang dimilikinya dapat dibagikan dan bermanfaat bagi orang lain.

Pesan tersebut kemudian ia terapkan melalui kegiatan mengajar. Farid sempat mengajar teman-temannya maupun anak-anak selama kurang lebih dua bulan. Dari pengalaman tersebut, ia menemukan bahwa tantangan mengajar matematika bukan hanya membuat siswa memahami hitungan, tetapi juga mengubah anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit dan menakutkan.

Ia pun mencoba menyesuaikan cara mengajar dengan karakter anak. Saat mengajar siswa sekolah dasar, misalnya, Farid menggunakan istilah yang lebih sederhana untuk menjelaskan materi.

“Anak SD kan enggak tahu aljabar itu apa. Saya kenalkan namanya ‘Jabra’. ‘Mau belajar aljabar enggak?’ Terus mereka tanya, ‘Apa itu aljabar?’ Dari situ sebenarnya kita cuma perlu pendekatan yang cocok dengan anaknya,” ujarnya.

Kini Menjadi Guru di Kota Magelang

Keinginan Farid untuk menjadi pengajar sebenarnya sudah muncul sejak awal kuliah. Namun, ia sempat merasa belum cukup percaya diri dengan kemampuan dan penguasaan materi yang dimilikinya.

Kesempatan mengajar kemudian datang ketika memasuki semester tujuh. Ia mulai menerima tawaran mengajar privat melalui kenalan dosen. Dari satu murid, namanya kemudian mulai dikenal dan mendapat tawaran untuk mengajar anak-anak lainnya.

Farid lebih memilih mengajar secara privat dibandingkan bergabung dengan lembaga bimbingan belajar. Ia sempat mencoba mengajar di salah satu lembaga selama sekitar satu bulan, tetapi kemudian memutuskan untuk tidak melanjutkannya.

Setelah menyelesaikan kuliah dan mendapatkan Surat Keterangan Lulus (SKL), Farid mulai mendaftarkan diri sebagai guru. Kini ia telah diterima sebagai guru tetap di salah satu SMA swasta di Kota Magelang dan telah menjalani pekerjaan tersebut selama hampir dua bulan.

Bagi Farid, mengajar bukan hanya pekerjaan, tetapi juga cara untuk mempertahankan pengetahuan yang telah diperoleh selama kuliah.

“Mengajar itu bagi saya cara mengasah dan mempertahankan ilmu yang sudah dipelajari saat kuliah. Daripada kita lupa (materi) ya lebih baik kita ajarkan,” pungkasnya.

(Ellen Octovia Suherman)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan