Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Bincang-Bincang Kebangsaan dalam Perspektif Kebahasaan dan Kesastraan. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Sejarah Regulasi Kebahasaan

Pendidikan Bahasa Indonesia Penggunaan Bahasa
Muhammad Syahrul Ramadhan • 22 Oktober 2019 00:44
Jakarta: Kepala Pusat Bahasa Periode 2001-2009 Dendy Sugono menceritakan sejarah masuknya kebahasaan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Ide memasukkan bahasa dalam UU mencuat dalam kongres bahasa Indonesia pada 1978.
 
“Dari kongres 1978, perlunya Undang-undang kebahasaan. (Kongres) Muncul setiap lima tahun. Kongres pertama 1938 republik belum berdiri,” kata Dendy di Gedung Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin, 21 Oktober 2019.
 
Menurut Dendy perencanaan bahasa sudah dibuat sebelum Indonesia merdeka. Ini bisa dilihat dalam poin ketiga isi sumpah pemuda yang dimaknai sebagai pengakuan adanya bahasa dari kelompok-kelompok suku bangsa yang ada.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pernyataan persatuan mengakui bahasa daerah juga mengakui bahasa asing, Tetapi kita menjunjung bahasa persatuan (bahasa Indonesia),” ungkapnya.
 
Ia mengaku jadi pengusul UU Kebahasaan pada 2005. Ketika itu, Dendy menjabat Kepala Pusat Bahasa dan mengusulkan kepada Menteri Pendidikan saat itu Bambang Sudibyo, untuk membuat Undang-Undang Kebahasaan. "Saat itu saya bisikan disetujui, saya kawal terus di DPR," ujarnya
 
Kala itu, kata dia, yang masuk dalam program legislasi nasional justru UU tentang Bendera, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan. Sementara, UU kebahasaan belum masuk, dan justru terancam batal.
 
Kemudian, Dendy berinisiatif agar kebahasaan masuk dalam UU tentang Bendera, Lambang Negara dan lagu Kebangsaan. Ia mengaku menyampaikan hal itu ke Sudibyo saat sedang bersepeda bersama. Usulan mendapat lampu hijau.
 
"Jadi gabung lebih bagus, strategis masukan teknis-teknis. Bisa cepat, sanggup. Jadilah menteri setuju, menjadi satu, yang sekarang berusia 10 tahun," ungkapnya.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif