Ungkap Sindikat Ijazah Aspal, Jurnalis Tirto Dipidanakan
Ijazah, MI/Susanto.
Jakarta: Mawa Kresna, Wartawan media online Tirto.id mendapat ancaman akan dipidanakan oleh Abdul Wahid Maktub, Staf Khusus Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir.  Ancaman pidana tersebut didapat, setelah Mawa memberitakan adanya keterlibatan Maktub dalam sindikat jual beli ijazah palsu di sejumlah perguruan tinggi swasta.

Kronologi ancaman tersebut diterima Tirto.id dari Mawa, pada Senin, 26 November 2018.  Dalam kronologi tersebut disampaikan, Maktub mengirim pesan melalui pesan Whatsapp pertama pada pukul 11.16 WIB.


"Saya akan tuntut ke pengadilan," kata Mawa memaparkan kronologi ancaman pidana tersebut.

Ancaman tersebut terkait dengan berita mendalam yang diturunkan Tirto.id, pada Senin 26 November 2018 tentang sindikat jual beli ijazah asli tapi palsu (aspal) dengan modus kuliah fiktif. Setelah laporan itu naik, kata Mawa, dirinya sebagai penulis diancam akan dipidanakan oleh Maktub yang di dalam berita itu disebut sebagai bagian dari sindikat.

Menurut Mawa, ia sudah menyampaikan kepada Maktub, jika memang ada kekurangan dalam keberimbangan berita, dapat memberikan hak jawab. "Namun ia tetap mengatakan akan melapor ke polisi," ungkap Mawa.

Ancaman selanjutnya, kembali disampaikan melalui WA pada pukul 13.19 WIB. “InsyaAllah saya selesaikan secara hukum, biar kebenaran dan keadilan menjadi jelas, nyata dan terbuka,” imbuh Mawa.

Masih berdasarkan kronologi, Mawa lalu menyampaikan pada Maktub, agar menggunakan hak jawab. “Pak, kalau ada kekurangan, silakan sampaikan hak jawab. Kami sudah membuat berita berimbang berdasarkan temuan kami," terang Mawa saat membalas WA kedua Maktub.

Namun Maktub tetap memutuskan untuk lapor ke polisi. “Sekarang saya (Maktub) lapor ke polisi," tutur Mawa.

Kemudian pada pukul 17.39 WIB, Maktub mengirim soft file surat kuasa pada Mawa. Di mana surat itu berisi Maktub menguasakan pada pengacara M. Shileh Amin, IIM Abdul Halim, Yasir Arafat dan Falaki K. Muhammad untuk melaporkan Tirto.id dan Mawa ke polisi.

Menanggapi ancaman tersebut, Pemimpin Redaksi Tirto.idAtmaji Sapto Anggoro, menyesalkan pesan bernada ancaman tersebut.  "Oh yaada teror bernada ancaman kepada wartawan Tirto, Kresna Mawa, yang tentu kami sayangkan," kata Sapto.

Mestinya, kata Sapto, pihak yang dirugikan dapat mengajukan hak jawab jika merasa keberatan dengan isi berita tersebut.  "Kalau tidak puas, mengirim keberatan hak jawab, tohjuga sudah kita wawancarai. Karena ini masalah pemberitaan, seyogyanya kalau tidak ada titik temu bisa ditempuh melalui mediasi Dewan Pers," tegas Sapto.

Menurut Sapto, Tirto.id juga sudah menyampaikan kepada pihak Dewan Pers, sekaligus menunggu panggilan dari Kepolisian. "Kita juga menunggu kalau ada dari polisi," terang Dia.

Terkait kasus ini, pihaknya mendapat bantuan dukungan dari LBH Pers, AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Jakarta, dan tim pengacara dari LPDS (Lembaga Pers Dr. Soetomo) yang siap membantu. "Karena kami sudah menggunakan standar jurnalistik," ujar Dia.

Maktub, kata Sapto, juga tidak membuka untuk medisi, dan tetap memilih mengadukan ke kepolisian. "Dia (Maktub) tak berkenan dan merasa dirugikan. Mengancam mengadukan ke polisi. itu saja," terang Sapto.

Untuk itu, Sapto menunggu mediasi melalui Dewan Pers, yang akan menguji kesahihan investigasi Tirto.id terkait berita tersebut.  Ia juga mengaku siap untuk diuji kesahihan investigasi berita tersebut. "Ya (siap), wongada buktinya. Kita kasih tunjuk data dari tim EKA (Evaluasi Kinerja Akademik," tutup Sapto.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id