Tahun ini, jadwal seleksi masuk prodi sarjana terapan diselenggarakan serentak setelah seleksi masuk prodi sarjana. “Selain jalur reguler yang berbasis hasil tes UTBK, prodi sarjana terapan Fakultas Vokasi ITS juga menerima mahasiswa baru melalui jalur undangan atau prestasi dan jalur kemitraan mandiri,” kata Dekan Fakultas Vokasi ITS, M Sigit Darmawan, dalam siaran pers, Kamis, 9 Mei 2019.
Daya tampung mahasiswa baru terbagi dengan komposisi 30 persen jalur undangan/prestasi, 40 persen jalur reguler, 30 persen jalur kemitraan/mandiri. Dari 30 persen jalur undangan/prestasi, lulusan SMK diberi kuota sebanyak 20 persen dan lulusan SMU/MA hanya 10 persen. Informasi selengkapnya tentang penerimaan maba prodi sarjana terapan di ITS ini dapat dilihat pada laman https://smits.its.ac.id/ di bagian Seleksi Masuk Vokasi ITS.
Seperti diberitakan sebelumnya, ITS menghapus penerimaan mahasiswa baru untuk program Diploma 3 (D3) mulai tahun ini. Langkah menghapus program D3 tersebut telah sesuai dengan arahan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada akhir 2018, untuk menghapus Program D3 menjadi Program Sarjana Terapan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Diploma IV (D4).
"Hal tersebut juga sejalan dengan kebijakan ITS yang ingin memperbanyak Program Sarjana Terapan," ujar Sigit.
Sigit mengungkapkan, ITS siap membuka tujuh prodi baru Sarjana Terapan pada 2019 ini. Ketujuh prodi baru tersebut yaitu Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Air, Teknologi Rekayasa Manufaktur, Teknologi Rekayasa Konversi Energi, Teknologi Rekayasa Otomasi, Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Rekayasa Teknologi Instrumentasi, dan Statistika Bisnis.
Prodi Sarjana Terapan baru tersebut dinilai sudah mewakili semua Prodi D3 yang telah ada di ITS sebelumnya dan sudah memiliki dasar hukum dari Surat Keputusan (SK) Rektor ITS pada Maret 2019. Dijelaskan Sigit, saat ini prodi sarjana terapan telah menjadi favorit di kalangan generasi milenial.
Baca: Pemerintah Wacanakan Pembentukan Komite Pendidikan Vokasi
Hal ini dikarenakan prodi sarjana terapan lebih banyak praktiknya, baik berupa praktik di lapangan maupun magang di dunia kerja. Kondisi ini sangat sesuai untuk generasi milenial yang menyukai hal-hal yang bersifat terapan atau aplikatif.
“Pada dasarnya prodi sarjana terapan memang berorientasi pada praktik sebesar 60 persen dan teori sebesar 40 persen,” imbuh Guru Besar Teknik Infrastruktur Sipil tersebut.
Program sarjana terapan ini mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti program magang selama satu semester. Dengan adanya arahan tersebut akan membantu mahasiswa dalam memahami dunia kerja dan membantu dalam mencari topik penelitian untuk tugas akhir (TA).
“Kelebihan dengan adanya magang ini, dapat memudahkan dalam menghasilkan lulusan vokasi yang terdidik, terampil, kompeten dan tersertifikasi,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News