Ilustrasi belajar dari rumah. Foto: Dok. Medcom.id
Ilustrasi belajar dari rumah. Foto: Dok. Medcom.id

47 Persen Anak Indonesia Bosan di Rumah

Pendidikan Virus Korona Pembelajaran Daring IPB
Citra Larasati • 13 November 2020 07:15
Jakarta: Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 (Satgas Covid) menunjukkan bahwa 47 persen anak Indonesia yang melakukan kegiatan belajar dari rumah di masa pandemi ini merasakan kebosanan. Tanda-tanda tekanan mental dan emosional akibat pandemi ini juga dialami pada anak-anak di sejumlah negara di seluruh dunia.
 
Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia (IKK-Fema) Institut Pertanian Bogor (IPB), Eva Riany menyebutkan, kebijakan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah menimbulkan polemik bagi siswa dan orang tua siswa. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.
 
Di Indonesia, implementasi kebijakan pembatasan kegiatan pembelajaran di sekolah berdampak signifikan pada tingkat kesehatan mental para siswa, meskipun dengan derajat yang bervariasi. Data yang diperoleh dari survei penilaian cepat yang dilakukan oleh satgas covid-19 (BNPB, 2020) menunjukkan bahwa 47 persen anak Indonesia merasa bosan di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kemudian35 persen anak merasa khawatir ketinggalan pelajaran, 15 persen anak merasa tidak aman, 20 persen anak merindukan teman-temannya dan 10 persen anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga.Kondisi ini apabila tidak diatasi, akan menyebabkan hal yang lebih fatal.
 
Contohnya, sebut saja MI (16), remaja siswa kelas 2 SMA di Kota Gowa yang nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun rumput karena diduga mengalami depresi akibat tekanan pembelajaran jarak jauh yang dialaminya. Sebelum meminum racun rumput tersebut, MI sempat mengeluh kepada temannya bahwa dia mengalami kesulitan dalam mengakses tugas belajar di sekolah akibat sinyal di area rumahnya yang tidak baik.
 
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, dalam penelitian yang dipublikasikan JAMA Pediatrics Journal dan dilakukan di Hubei Cina serta melibatkan 2.330 anak sekolah juga menunjukkan kondisi serupa. Anak-anak usia sekolah yang mengalami karantina proses belajar akibat covid-19 menunjukkan beberapa tanda-tanda tekanan emosional.
 
Bahkan penelitian lanjutan dari observasi tersebut menunjukan bahwa 22,6 persen dari anak-anak yang diobservasi mengalami gejala depresi dan 18,9 persen mengalami kecemasan. Hasil survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang juga menunjukkan hasil yang serupa, yaitu 72 persen anak-anak Jepang merasakan stres akibat covid-19.
 
Eva menambahkan, hal serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Investigasi yang dilakukan oleh Centre for Disease Control (CDC) menunjukkan bahwa 7,1 persen anak-anak dalam kelompok usia 3 hingga 17 tahun telah didiagnosis dengan kecemasan dan sekitar 3,2 persen pada kelompok usia yang sama menderita depresi.
 
Baca juga:Kemenko PMK Sarankan Asesmen Nasional Diundur Hingga Oktober 2021
 
Bahkan penelitian lainnya menunjukkan bahwa isolasi akibat covid-19 ini menyebabkan kondisi kesehatan mental anak-anak berkebutuhan khusus, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), autism spectrum disorder (ASD) dan disabilitas lainnya semakin buruk.
 
Hal ini merupakan bukti nyata bahwa anak dan remaja yang mengalami pembatasan aktivitas belajar di rumah adalah kelompok rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Untuk itu, kata Eva, diperlukan upaya strategis dalam mengevaluasi sistem pembelajaran jarak jauh.
 
Sekaligus memberikan dukungan kesehatan mental bagi anak dan remaja. Penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui sekolah merupakan hal strategis yang perlu diperkuat di era pandemi saat ini.
 
"Dengan adanya penyediaan layanan ini, baik online maupun offline, baik melalui masyarakat maupun konseling sebaya, harapannya masyarakat dapat dengan mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan,” ujarnya.
 
Pemberian layanan kesehatan mental bagi anak dan remaja juga dapat diperkuat oleh sekolah. Sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran jarak jauh, pihak sekolah selayaknya memperhatikan kondisi para siswanya, tidak hanya pada kualitas kemajuan pembelajarannya saja.
 
Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih atas keamanan, kondisi kesejahteraan mental anak dan hal lain terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh anak dalam proses pembelajaran di rumah.
 
Eva menyimpulkan, bahwa pendampingan keluarga melalui penguatan kapasitas keluarga dengan implementasi strategi positif, seperti mendampingi anak belajar online di rumah, dipercaya merupakan cara efektif untuk meminimalisasi permasalahan terkait anak dan remaja di masa pandemi ini.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif