Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemendikbud Paristiyanti Nurwadani menyebut ada 30 perguruan tinggi yang hingga saat ini ingin kerja sama. Untuk itu, diakui Paristiyanti, diperlukan tim khusus, pasalnya tidak semua dapat difasilitasi.
"Mas Menteri akan membuat tim untuk menentukan dan memfasilitasi kampus mana saja yang akan diprioritaskan," ungkap Paristiyanti kepada wartawan usai program sosialisasi 'Kampus Merdeka' di Universitas Sahid, Jakarta, Senin, 17 Februari 2020.
Paristiyanti menambahkan, sebanyak 30 perguruan tinggi luar negeri tersebut tidak semuanya langsung ke Kemendikbud. Tapi ada beberapa dari tawaran kerja sama tersebut masuk langsung melalui perguruan tinggi.
"PTNBH (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum) kan banyak yang mengajak kolaborasi. Kredit transfer, penelitian dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pengabdian masyarakat," jelasnya.
Ia pun menegaskan, dalam kerja sama ini tidak ada pemaksaan. Kemendikbud, kata Paristiyanti, hanya ingin memfasilitasi kampus yang ingin kerja sama.
"(Kami) Fasilitasi kolaborasi dengan perguruan tinggi yang berminat, tidak memaksa. Yang berminat monggo silakan. Tidak hanya menyuruh tapi memfasilitasi," terangnya.
Sementara itu, terkait perguruan tinggi luar negeri mana lagi yang akan menjalin kerja sama, Paristiyanti hanya menjawab singkat. "Tunggu tanggal main," jawabnya.
Teranyar Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Monash University. Nantinya kampus dari Australia itu akan menaungi mahasiswa di jenjang doktoral dan magister.
Namun bagaimana strukturnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih belum mengetahui lebih lanjut. Nadiem hanya mengetahui program S2 dan S3 yang dibuka Monash dapat membantu Universitas di Indonesia dalam merintis berbagai macam riset partnership.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News