Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.
Guru sedang mengajarkan siswa di muka kelas, MI/Gino Hadi.

Perkuat Profesionalisme, Guru Harus Punya Organisasi Profesi

Pendidikan guru Kebutuhan Guru
Citra Larasati • 10 Oktober 2019 16:19
Jakarta: Animo kalangan milenial untuk menjadi guru sangat tinggi dalam beberapa tahun belakangan. Namun sayangnya, profesi guru sendiri belum sepenuhnya menjadi sebuah pekerjaan profesional, salah satunya karena belum memiliki organisasi profesi guru.
 
Menurut Muhadjir, minat menjadi guru di kalangan milenial sejak beberapa tahun terakhir sangat tinggi. Terlihat dari tingginya animo lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat yang masuk ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
 
"Sebetulnya tidak ada masalah dengan minat milenial kita untuk menjadi guru. Minatnya tinggi," kata Muhadjir di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hanya saja, animo yang besar tersebut masih harus diikuti dengan langkah konkret untuk memastikan profesi guru di Indonesia dapat menjadi sebuah pekerjaan profesional. "Karena sekarang ini masih dalam proses, sejak diberlakukannya UU Guru dan Dosen sampai sekarang kita ini masih proses pembentukan guru sebagai sebuah pekerjaan profesional," papar mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
 
Untuk menjadikan guru sebuah pekerjaan yang profesional, kata Muhadjir, dibutuhkan tiga langkah perbaikan. Pertama dalam aspek ekspertis atau keahlian seorang guru.
 
"Ekspertis atau keahlian ini perlu ditangani dengan sungguh-sungguh, guru masih butuh banyak proses pelatihan pendidikan di LPTK. Baik pendidikan akademik maupun profesinya," jelas Muhadjir.
 
Kemudian unsur tanggung jawab sosial, guru juga masih harus mendapat perhatian. Menurut Muhadjir, para guru sudah harus mulai ditanamkan tanggung jawab sebagai seorang pendidik.
 
"Bahwa dia ini akan membawa generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia, ini harus ditangani betul, agar dia menjalankan pekerjaannya sebagai sebuah panggilan," ujarnya.
 
Kemudian yang ketiga, kata Muhadjir, perlu adanya organisasi profesi guru. Sebab menurutnya, suatu pekerjaan yang disebut profesi dapat berjalan dengan baik jika ada hubungan kolegialitas atau kesejawatan dalam bentuk sebuah asosiasi atau korps profesi.
 
"Jadi ini pekerjaan rumah kita," ucap Muhadjir.
 
Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) ini mengatakan, jika belum ada organisasi profesi guru, maka sulit untuk menyusun kode etik guru. Sebab kode etik guru sejatinya adalah etika yang disusun dan disepakati oleh organisasi profesi guru.
 
"Kode etik guru yang selama ini ada belum baku. Kenapa belum baku? karena itu memang harus dibuat oleh organisasi profesi, bukan pemerintah. Itu kenapa organisasi profesi guru harus independen," tegas Muhadjir.
 
Ia mengakui, sejumlah organisasi guru sudah mengajukan diri untuk dikukuhkan menjadi organisasi profesi guru. Namun saat ini belum ada satupun yang secara resmi boleh menyandang nama organisasi profesi guru.
 
"Masalahnya bukan kita (pemerintah) akui atau tidak. Tapi masalahnya ya mereka sudah memenuhi persyaratan atau tidak. Persyaratan organisasi profesi guru kan ada di dalam Undang-undang Guru dan Dosen, syaratnya sudah ada," tutupnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif