Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid (kanan).  Foto:  Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid (kanan). Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Pemerintah Pernah Fasilitasi Eka Kurniawan ke 'Frankfurt Book Fair'

Pendidikan kebudayaan Pekan Kebudayaan Nasional
Antara • 11 Oktober 2019 18:33
Jakarta: Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid mengatakan, pemerintah pernah membantu sastrawan Eka Kurniawan untuk menghadiri pameran buku di Jerman, 'Frankfurt Book Fair'.
 
"Kritiknya pada pemerintah tidak masalah, tapi baiknya juga perlu memberitahu juga bantuan yang pernah pemerintah berikan seperti kunjungannya untuk hadir di 'Frankfurt Book Fair'," ujar Hilmar di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat, 11 Oktober 2019.
 
Dia menambahkan, jangan sampai pernyataan Eka Kurniawan tersebut membuat sastrawan muda yang baru merintis berkecil hati, dan tidak tahu keadaan sebenarnya. Menurut dia, sejumlah upaya telah dilakukan Kemendikbud untuk meningkatkan kapasitas kepenulisan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mulai dari residensi hingga memfasilitasi sastrawan untuk berkunjung ke pameran buku di luar negeri. "Kalau baca seperti yang disampaikan Eka Kurniawan di media sosial, takutnya ada kekhawatiran mereka tidak akan dibantu. Padahal kondisinya tidak seperti itu," terangnya.
 
Hilmar menambahkan, bahwa keputusan menolak penghargaan Maestro Seni dan Tradisi, merupakan hak Eka. Pihaknya menghormati keputusan itu.
 
Sebelumnya, sastrawan Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni tradisi 2019, mulanya penghargaan itu akan diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepadanya pada Kamis, 10 Oktober 2019.
 
Dalam keteranganya, ada beberapa alasan yang membuatnya menolak penghargaan tersebut, salah satunya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memberikan apresiasi bagi pekerja seni dan budaya.
 
Ia menilai penghargan yang akan diterimanya berupa pin dan uang senilai Rp50 juta dipotong pajak tersebut, terlihat kontras dengan hadiah yang diterima para atlet atau olahragawan yang memenangkan olimpiade. Ekajuga menilai, negara telah mangkir dalam memberikan perlindungan pada industri perbukuan.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif