Awan ini hanya muncul pada musim panas dan hanya bisa dilihat setelah matahari terbenam. Penampilannya yang berkilauan seperti garis-garis halus di tepi langit membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
Meski terlihat seperti awan biasa, noctilucent sebenarnya sangat berbeda dari awan yang dikenal sehari-hari. Awan ini terbentuk di tempat yang sangat tinggi, nyaris di batas antara atmosfer bumi dan luar angkasa.
Lantas, apa sebenarnya awan noctilucent? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Awan Noctilucent?
Mengutip laman space.com, kata noctilucent berasal dari bahasa Latin ‘nocto’ yang artinya bersinar di malam hari. Awan ini juga sering disebut awan mesosfer kutub karena terbentuk di lapisan mesosfer, yaitu lapisan ketiga atmosfer bumi.Awan biasa terbentuk di ketinggian 2 hingga 18 kilometer di atas permukaan bumi. Sementara awan noctilucent terbentuk jauh lebih tinggi, yaitu antara 76 hingga 85 kilometer dan menjadikannya awan tertinggi yang pernah ada di Bumi.
Bagaimana Awan Ini Terbentuk?
Sama seperti awan lainnya, noctilucent membutuhkan tiga bahan utama, yaitu uap air, debu, dan suhu yang sangat dingin. Kondisi istimewa pada lapisan mesosfer memungkinkan suhu turun hingga minus 125 derajat Celsius, jauh lebih dingin dari kondisi mana pun di permukaan bumi.Saat suhu sedingin itu, uap air membeku dan menempel pada partikel debu yang ada di mesosfer, membentuk kristal-kristal es yang sangat kecil. Ketika matahari yang sudah berada di bawah cakrawala masih menyinari kristal-kristal tersebut dari bawah, pantulan cahayanya menciptakan kilau biru yang cantik di langit malam.
Debu di mesosfer bisa berasal dari meteor-meteor kecil dari luar angkasa, atau dari bumi lewat letusan gunung berapi dan polusi udara. Tidak mengherankan, awan noctilucent pertama kali tercatat pada tahun 1885, tepat dua tahun setelah letusan besar Gunung Krakatau yang memuntahkan banyak debu ke atmosfer.
Kapan Awan Noctilucent Bisa Dilihat?
Awan noctilucent hanya muncul pada musim panas, antara akhir Mei hingga awal Agustus di belahan bumi utara. Waktu terbaik untuk melihatnya adalah setelah matahari terbenam atau sebelum fajar, ketika langit sudah cukup gelap namun sinar matahari masih bisa menyentuh awan di ketinggian tersebut.Sayangnya, tidak semua orang di dunia bisa menikmatinya. Awan ini hanya terlihat di wilayah yang berada pada garis lintang 45 hingga 80 derajat utara dan selatan, seperti negara-negara di Eropa Utara, Kanada, dan Rusia. Semakin dekat ke khatulistiwa, semakin kecil kemungkinan untuk melihatnya.
Semakin Sering Muncul, Tanda Perubahan Iklim?
Ilmuwan menemukan awan noctilucent kini semakin sering muncul dibanding sebelumnya. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2018 menyimpulkan penyebab utamanya adalah meningkatnya kadar gas metana di atmosfer akibat aktivitas manusia.Metana adalah gas rumah kaca yang ketika terurai di atmosfer akan menghasilkan uap air tambahan. Uap air inilah yang naik ke mesosfer dan menjadi bahan baku lebih banyak kristal es, sehingga awan noctilucent lebih mudah terbentuk.
Seorang ilmuwan Jerman, Franz-Josef Lübken, menyatakan pada abad ke-19 awan ini mungkin hanya muncul sekali setiap beberapa dekade, sedangkan sekarang bisa terlihat beberapa kali dalam satu musim panas.
Peluncuran Roket Juga Ikut Berperan?
Pada tahun 2022, satelit milik NASA bernama AIM mencatat lonjakan kemunculan awan noctilucent terbesar dalam 15 tahun terakhir. Para ilmuwan menduga hal ini berkaitan dengan meningkatnya jumlah peluncuran roket, yang melepaskan uap air ke atmosfer saat diluncurkan.Uap air dari roket tersebut perlahan naik ke mesosfer dalam waktu sekitar 10 hari. Teori ini diperkuat oleh fakta bahwa sekitar 10 hari setelah SpaceX meluncurkan tiga roket dalam waktu 36 jam pada Juni 2022, kemunculan awan noctilucent juga melonjak tajam dan dilaporkan oleh banyak pengamat. Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan keterkaitan ini.
Bisa Dilihat dari Luar Angkasa
Keindahan awan noctilucent tidak hanya bisa dinikmati dari permukaan bumi. Pada tahun 2016, astronaut ESA bernama Tim Peake berhasil memotret awan noctilucent yang bersinar indah langsung dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, membuktikan bahwa fenomena ini spektakuler dari sudut pandang mana pun.Awan noctilucent adalah bukti bahwa langit menyimpan keajaiban yang belum sepenuhnya dipahami, sekaligus tanda bahwa aktivitas manusia dari emisi gas rumah kaca hingga peluncuran roket, kini bisa memengaruhi fenomena alam yang terjadi di bumi. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News