Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali saat membagikan pengalaman dakwahnya di Amerika Serikat. (Foto: Dok. Humas UMS)
Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali saat membagikan pengalaman dakwahnya di Amerika Serikat. (Foto: Dok. Humas UMS)

Imam Besar Islamic Center New York Ungkap Perkembangan Dakwah Islam di Amerika

Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Mei 2026 16:35
Jakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Dakwah Islam di Bumi Amerika” di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais UMS, Kamis (21/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, UMS mengundang Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali sebagai pembicara utama untuk membagikan pengalaman dakwah Islam di Amerika Serikat.
 
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa dan civitas academica UMS itu membahas perkembangan Islam di Amerika, tantangan dakwah di tengah islamofobia, hingga pentingnya menghadirkan wajah Islam yang damai dan rasional di dunia Barat.
 
Dalam pemaparannya, Syamsi Ali menceritakan perjalanan hidupnya sebagai putra asli Sulawesi Selatan yang tumbuh dari lingkungan sederhana hingga akhirnya menetap hampir 30 tahun di New York. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dan menempuh pendidikan di pesantren Muhammadiyah sejak remaja.

“Saya asli kader Muhammadiyah. Pokoknya yang asli-asli saja. Kita tidak perlu menampilkan diri dalam kepalsuan,” ujarnya mengawali materi yang disambut tawa peserta.
 
Syamsi Ali mengisahkan masa kecilnya yang dikenal gemar berkelahi hingga akhirnya dimasukkan orang tuanya ke pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara Makassar. Dari sana, hidupnya mulai berubah.
 
Dirinya kemudian memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Pakistan selama tujuh tahun sebelum menjadi pengajar di Arab Saudi dan akhirnya berdakwah di Amerika Serikat sejak 1996. Menurutnya, perjalanan hidup tersebut menjadi bukti bahwa manusia hanya dapat berusaha, sementara arah kehidupan sepenuhnya berada dalam ketentuan Allah SWT.
 
Dalam kajiannya, Syamsi Ali menggambarkan Amerika Serikat sebagai negara paling kuat secara ekonomi dan militer. Namun di balik kekuatan itu, ia menilai Amerika juga berada di ambang krisis akibat sikap arogan sebagai negara adidaya dan persoalan moral yang berkembang di masyarakat.
 
Meski demikian, ia mengakui Amerika memiliki sistem konstitusi yang menjamin kebebasan beragama. Hal itu menjadi salah satu faktor utama berkembangnya dakwah Islam di negara tersebut.
 
“Kami memiliki kebebasan penuh untuk beragama dan membawa misi agama di bumi Amerika. Konstitusi mereka menjamin itu,” jelasnya.
 
 
Ia juga menyinggung peristiwa 11 September 2001 atau 9/11 yang sempat memunculkan tekanan besar terhadap umat Islam di Amerika. Menurutnya, tragedi tersebut memicu meningkatnya islamofobia, tetapi di sisi lain justru membuat banyak masyarakat Amerika semakin tertarik mempelajari Islam.
 
“Islam berkembang unstoppable. Bisa ditantang, bisa dirintangi, tetapi tidak bisa dihentikan,” tegasnya.
 
Syamsi Ali menjelaskan, perkembangan Islam di Amerika didukung beberapa faktor, di antaranya Islam sebagai agama fitrah, ajaran Islam yang logis dan rasional, adanya kebebasan hukum di Amerika, serta perilaku umat Islam yang membawa kedamaian.
 
Menurutnya, masyarakat Barat cenderung menerima pendekatan keagamaan yang rasional. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya umat Islam menghadirkan dakwah yang mampu dipahami secara logis, khususnya bagi generasi muda.
 
“Agama kita sangat logis dan rasional. Persoalannya kadang kita sendiri menampilkan Islam dengan cara yang tidak rasional,” katanya.
 
Selain itu, ia menyebut tantangan dakwah Islam di Amerika masih terus ada, mulai dari sentimen politik terhadap Islam, ketakutan sejarah Barat terhadap kebangkitan Islam, hingga kegagalan sebagian umat Islam dalam menunjukkan nilai Islam yang sebenarnya.
 
Kuliah umum kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Menjawab salah satu pertanyaan peserta, Syamsi Ali menjelaskan pentingnya membedakan antara Yahudi sebagai agama dan Zionisme sebagai gerakan politik.
 
Menurutnya, tidak semua penganut Yahudi mendukung tindakan genosida di Gaza maupun kebijakan Israel. “Yahudi itu agama, sedangkan Israel adalah entitas politik yang dibangun di atas paham Zionisme,” ujarnya.
 
Ia mencontohkan dukungan sebagian komunitas Yahudi di New York kepada politisi pro-Palestina, Zohran Mamdani, sebagai bukti adanya kelompok Yahudi yang menolak genosida dan mendukung keadilan bagi Palestina.
 
Imam besar tersebut juga menanggapi pertanyaan mengenai terpilihnya Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat. Ia menyebut sebagian komunitas muslim sempat berharap Trump dapat menghentikan konflik di Gaza, meskipun pada akhirnya harapan tersebut tidak terwujud.
 
Meski demikian, ia melihat munculnya optimisme baru melalui kebangkitan politisi muda muslim di Amerika yang mulai berani menyuarakan isu Palestina dan menentang dominasi lobi pro-Israel.
 
Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah keragaman mazhab dan pandangan. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, tetapi perpecahan menjadi persoalan yang jauh lebih berbahaya bagi umat.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA