Melansir laman resmi Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Siwaratri dimaknai sebagai malam pemrelina atau pelebur kegelapan dalam diri untuk menuju jalan yang lebih terang. Berikut penjelasan lengkapnya. Simak yuk!
Makna Filosofis
Secara etimologi, Siwaratri berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu "Siwa" dan "Ratri".Siwa berarti baik hati, pemaaf, memberi harapan, dan membahagiakan. Kata ini juga merujuk pada manifestasi Tuhan (Dewa Siwa) yang berfungsi sebagai pelebur. Sementara itu, Ratri berarti malam atau kegelapan.
Secara harfiah, Siwaratri adalah momen di mana Hyang Siwa beryoga. Umat memanfaatkan waktu ini untuk introspeksi diri (mulat sarira) atas perbuatan atau dosa selama ini, menyatukan atman dengan paramatman, dan memohon tuntunan agar terlepas dari belenggu dosa. Tradisi ini erat kaitannya dengan kisah Lubdaka karya Empu Tanakung, seorang pemburu pendosa yang mencapai surga karena melakukan brata di malam Siwaratri.
Tiga Tingkatan Brata (Pantangan) Inti dari perayaan ini adalah pelaksanaan brata yang terdiri dari Monabrata (tidak bicara), Upawasa (tidak makan/minum), dan Jagra (tidak tidur). Pelaksanaannya dibagi menjadi tiga tingkatan kemampuan:
- Nista: Melaksanakan Jagra saja, yaitu sadar atau melek semalam suntuk. Jagra melebihi begadang pada umumnya yaitu dengan memusatkan kesadaran budhi dan aktivitas diri pada Tuhan.
- Madya: Melaksanakan Jagra dan Upawasa. Upawasa bermakna "kembali suci" dengan melatih indera melepaskan keterikatan pada kenikmatan makanan.
- Uttama: Tingkatan tertinggi yang melaksanakan ketiga pantangan sekaligus: Jagra, Upawasa, dan Monabrata (melatih pengendalian ucapan dan merenungkan kesucian).
Tata Cara Pelaksanaan
Bagi umat kebanyakan (Walaka), rangkaian upacara dimulai pada pagi hari tanggal 14 sasih kapitu dengan sucilaksana atau pembersihan diri. Menjelang malam, dilakukan maprayascita (pembersihan pikiran) dan persembahyangan kepada Sang Hyang Surya serta leluhur.Pemujaan utama ditujukan kepada Sang Hyang Siwa yang dilakukan tiga kali: pada awal malam, tengah malam, dan besoknya menjelang pagi.
Durasi Upawasa berlangsung selama 24 jam (pagi hingga pagi esoknya), sedangkan Jagra berlangsung selama 36 jam (berakhir pukul 18.00 esok harinya). Seluruh rangkaian ini ditutup dengan pelaksanaan Dana Punia. (Sultan Rafly Dharmawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News