12 Tahun Sekolah Sukma Bangsa

Menumbuhkan Kembali Asa Anak Korban Tsunami Aceh

Husen Miftahudin 07 Mei 2018 15:03 WIB
Yayasan Sukma Bangsa
Menumbuhkan Kembali Asa Anak Korban Tsunami Aceh
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari. Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin

Pidie:  2018, menjadi tahun yang menggenapi 12 tahun perjalanan Sekolah Sukma Bangsa dalam sejarah kemajuan pendidikan di Aceh.  Tepat di 2018 ini pula,  23 anak korban bencana tsunami Aceh yang tersisa, menamatkan pendidikannya.

Sukma Bangsa, berdiri sejak 2006 di bawah naungan Yayasan Sukma Bangsa.  Yayasan ini mendirikan tiga sekolah,  yakni di Pidie, Bireun, dan Lhokseumawe yang didedikasikan bagi anak-anak korban bencana tsunami yang meluluhlantahkan Aceh 2004 silam.


Ketiga sekolah itu diresmikan secara bersamaan, pada 14 Juli 2006. Sejak tahun ajaran 2006/2007 itu, masing-masing sekolah aktif menggelar kegiatan belajar mengajar.

"Sebanyak 352 siswa yang mengampu pendidikan di ketiga sekolah tersebut menjadi angkatan pertama di setiap jenjang satuan pendidikan, baik SD, SMP, maupun SMA.," kata Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Marthunis Bukhari ketika berbincang dengan Medcom.id, di Peukan Baro, Kabupaten Pidie, Aceh, Senin, 7 Mei 2018.

Setelah diresmikan, Sukma Bangsa hanya membuka untuk siswa kelas 1 di masing-masing jenjang (SD, SMP, dan SMA). "Jadienggakada kelas 2 (SD, SMP, SMA). Mereka juga sekaligus jadi angkatan pertamanya," ujar Marthunis.

Ia menyebutkan, Ke-352 siswa yang tersebar di tiga sekolah tersebut merupakan anak-anak korban tsunami dan konflik di Aceh.  Sebanyak 87 siswa diantaranya menempati kursi kelas 1 SD, 143 siswa kelas 1 SMP, dan 122 siswa kelas 1 SMA.

Setiap siswa yang menempuh bangku sekolah di Sukma Bangsa tak serupiah pun dipungut biaya. Beasiswa pendidikan penuh diberikan selama 3 tahun bagi siswa korban tsunami yang duduk di bangku SMA, 6 tahun bagi siswa SMP, dan 12 tahun bagi siswa SD.

"Untuk tempat tinggal, mereka berada di asrama," jelas Marthunis.

Dari 87 siswa SD angkatan pertama korban tsunami, kini hanya tersisa 23 siswa yang melanjutkan beasiswa hingga tamat selama 12 tahun. Selebihnya, banyak yang tidak melanjutkan pendidikan di Sekolah Sukma Bangsa lagi saat ketika mereka lulus SD ataupun SMP.

"Setelah menamatkan SD, anak-anak korban tsunami yang ada di Bireun dan Lhokseumawe digabung di satu sekolah, di Sekolah Sukma Bangsa Pidie. Jadi (untuk siswa korban tsunami Aceh) tinggal 23 anak lagi," jelasnya.

Ke-23 anak itu, bakal diwisuda bersama 169 siswa dari tiga Sekolah Sukma Bangsa lainnya pada Sabtu, 12 Mei 2018 nanti.

Marthunis mengungkapkan, sepanjang 12 tahun berproses di Sukma Bangsa membuat anak-anak korban tsunami dan konflik Aceh kembali berani menumbuhkan asa, dan bermimpi tinggi. Karena pada 12 tahun yang lalu, meraba masa depan pun, kata Marthunis, masih menjadi sebuah kemewahan bagi mereka.  

"Jadi harapannya, mereka terus tumbuh dan gemilang bersama dengan harapan dan mimpi yang akan mereka wujudkan ke depan setelah tamat dari sekolah ini," pungkas Marthunis.


    

 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id