Kampus IAIN Syekh Nurjati. Foto: Dok. Kemenag
Kampus IAIN Syekh Nurjati. Foto: Dok. Kemenag

Unik, IAIN Syekh Nurjati Ajarkan Mata Kuliah Cirebonology

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pendidikan Agama Perguruan Tinggi PTKI
Citra Larasati • 24 September 2021 21:16
Jakarta:  Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Sumanta Hasyim menjelaskan bahwa seluruh jurusan di kampusnya menerapkan mata kuliah yang mengusung kearifan lokal dalam merealisasikan nilai-nilai Moderasi Beragama. Mata kuliah tersebut diberi nama Cirebonology.
 
"Di IAIN Syekh Nurjati, setiap jurusan mengajarkan matakuliah Cirebonology. Ilmu tentang ke-Cirebon-an," kata Sumanta Hasyim saat ditemui Humas di ruang kerjanya, Jumat, 24 September 2021.
 
Menurut Sumanta, Rumah Moderasi Beragama (MB) di IAIN Syekh Nurjati sudah lama keberadaannya. "Uniknya, dilaunching oleh dua Menteri Agama, yakni Menag LHS dan Menag Fachrur Razi," tambah Sumanta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sumanta menjelaskan, bahwa rumah MB ini didirikan untuk membawa misi, bahwa ajaran-ajaran Islam itu menampilkan wajah kerahaman, rahmatan lil alamin, dan menjunjung kearifan lokal.
 
"Dalam mengusung budaya lokal, kita sudah banyak melakukan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, semisal kerja sama dengan Kraton Yogyakarta, para budayawan, dan lainnya," kata Sumanta.
 
Bahkan, lanjut Sumanta, pada 25 September 2021 akan diadakan dialog budaya dan agama dalam konteks menggali dan mengupas tradisi lokal yang mencerminkan nilai-nilai kerukunan di tengah masyarakat.
 
Baca juga:  Mahasiswa Diajak Mengedukasi Masyarakat dalam Penguatan Moderasi Beragama
 
Pada dasarnya, kata Sumanta, adab itu tidak terpisahkan dari nilai tradisi-tradisi yang baik. Semisal, kebiasaan masyarakat Cirebon dalam memuliakan tamu. Dan itu juga dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw.
 
"Tradisi di masyarakat Cirebon, contohnya, tidak afdol jika menjamu tamu tanpa kepala kambing. Namun, tradisi ini juga tergantung budaya yang berkembang di daerah masing-masing," jelas Sumanta.
 
Bagi Sumanta, di sinilah pentingnya, para akademisi di lembaga-lembaga pendidikan, utamanya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, untuk terus mensyiarkan bahwa kearifan lokal itu sebagai khazanah yang perlu dilestarikan.
 
"Di Cirebon ini, kaya akan tradisi lokal. Contohnya, azan tujuh orang. Tradisi ini dilakukan untuk menolak bala. Dulu ada pandemi yang melanda masyarakat Cirebon, untuk meredam pandemi ini dilakukan azan 7 orang," cerita Sumanta.
 
Selanjutnya, ada tradisi Panjang jimat. IAIN Syekh Nurjati Cirebon, terus berusaha untuk menampilkan ke publik atas warisan-warisan Kraton, selain sebagai wahana untuk melestarikan budaya dan masih banyak lagi tradisi budaya yang perlu digali dan diungkit serta diangkat.
 
"Hal-hal demikian ini, bisa nantinya didapatkan di Pusat Cirebon Corner, Perpustakaan di kampus pusat IAIN Syekh Nurjati," tutup Sumanta.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif