Siswa Tunanetra saat mengikuti UNBK. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Siswa Tunanetra saat mengikuti UNBK. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Angka Partisipasi Tunanetra Belajar di Sekolah Hanya 20%

Pendidikan Pemerataan Pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 05 Januari 2020 14:57
Jakarta: Setiap 4 Januari diperingati sebagai Hari Braille Dunia. Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) melihat ini sebagai momentum yang pas untuk mengingatkan semua pihak bahwa tunanetra tetap perlu belajar di sekolah.
 
Ketua Umum Pertuni, Aria Indrawati menyebut saat ini belum semua anak penyandang tunanetra. Bahkan berdasarkan data Kementerian Pendidikan, angka partisipasi tunanetra usia sekolah di bidang pendidikan masih 20 persen.
 
Padahal,penyandang tunanetra memiliki hak yang sama untuk tetap belajar membaca dan menulis huruf Braille di fase awal usia sekolah mereka. "Untuk itu, mari kita mengambil momentum peringatan Hari Braille Dunia 4 Januari ini, menggugah hati dan pikiran semua pihak, keluarga, orang tua, pemerintah, terutama pemerintah daerah, agar membawa anak-anak tunanetra di seluruh penjuru negeri yang belum bersekolah agar sekolah," kata Aria dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, di Jakarta, Sabtu, 4 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut Ari mengungkapkan, dengan perkembangan teknologi, sekarang ini muncul pandangan bahwa anak tunanetra cukup belajar menggunakan teknologi adaptif yang tersedia banyak di pasaran. Mulai dari buku audio digital dan buku e-pub dan ditambah penciptaan alat bantu untuk membaca kedua varian buku tersebut.
 
Namun, Aria menegaskan bahwa pandangan tersebut salah. Pasalnya, tidak semua bisa difasilitasi oleh teknologi adaptif.
 
Ia mencontohkan tunanetra yang beragama Islam, mereka tidak hanya mendengarkan Alquran versi audio tapi juga harus belajar membaca Alquran Braille. "Karena nilai membaca Alquran dengan mendengarkan orang lain membaca Alquran itu berbeda," ujarnya.
 
Lebih lanjut ia menyebut, tantangan lain dalam mengajarkan anak-anak tunanetra membaca dan menulis Braille adalah guru-guru di sekolah luar biasa yang mengerti huruf Braille juga terbatas.
 
“Bagaimana sekolah akan mengajari anak tunanetra membaca dan menulis Braille jika di sekolah tersebut belum ada guru yang mengerti membaca dan menulis Braille? Kondisi ini terjadi bahkan di sekolah luar biasa, yang guru-guru pengajarnya berlatarbelakang pendidikan luar biasa," ungkapnya.
 
Kemendikbud, kata Aria, harus memberikan perhatian khusus, terhadap kondisi yang terjadi saat ini. Selain itu juga Ia mendorong orang tua yang mempunyai anak tunanetra untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah.
 
"Pemangku peran dunia pendidikan, ayo, kita fasilitasi agar anak-anak Indonesia yang menyandang tunanetra dapat bersekolah dengan baik," terangnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif