Obsesi Terhadap Indeks Scopus Picu Masturbasi Publikasi
Suasana di salah satu perpustakaan, MI/Adam Dwi.
Jakarta:Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) baru-baru ini menemukan sejumlah inidikasi pelanggaran etika publikasi karya ilmiah, salah satunya dengan melakukan "masturbasi publikasi" atau sitasi karya sendiri.  Salah satu penyebab akademisi menghalalkan berbagi cara dalam mempublikasikan karya ilmiahnya adalah target mencapai standar publikasi terindeks Scopus yang tinggi.

“Publikasi yang diwajibkan berdasarkan kaedah Scopus merupakan kekeliruan kebijakan sehingga menggiring orang untuk berbuat apa pun untuk terdaftar ke sana dan Indonesia menjadi sangat tergantung pada Scopus,” kata Menurut Pengamat Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Said Hamid Hasan kepada Medcom.id, Rabu 21 November 2018.


Ia sangat yakin jika data yang dipaparkan Tim Penilai Angka Kredit (PAK) Kemenristekdikti merupakan data yang valid.  Kebijakan mencapai standar karya ilmiah terindeks Scopus dengan mengutamakan publikasi secara berlebihan, kata Said, juga tidak proposional, bahkan terkesan melupakan marwah keilmuan dan perguruan tinggi.

“Akibatnya promosi guru besar terhambat, banyak dana terpakai ke sana at the cost of other academic activities, dan universitas menjadi pabrik publikasi bukan lagi utuh sebagai lembaga Pendidikan,” ujar Said.

Baca: Kemenristekdikti Temukan Indikasi Publikasi Ilmiah Tak Wajar

Dari data tersebut salah satunya mengungkapkan, ada seorang peneliti yang bisa menghasilkan 69 karya ilmiah dan 239 sitasi per tahunnya.  Ada dugaan peneliti tersebut mengutip karyanya sendiri dengan cara yang tidak wajar.

Ia juga menuturkan, dalam salah satu kriteria Google Scholar tentang sebuah kutipan yang banyak menggiring banyak orang untuk melakukan tindakan "masturbasi publikasi." Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk meningkatkan rankingsebagai scholar.

“Kriteria Google Scholar banyak dikutip, walaupun mengutip karya sendiri adalah perbuatan legal secara akademik asalkan berdasarkan cara yang legal,” tandasnya.

Sementara itu, dalam dunia Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih belum bisa dibangun dengan menggunakan desain pendidikan tinggi. Terutama dengan menggunakan cerminan warna kebangsaan.

“Kebijakan kita seperti menari berdasarkan gendang luar negeri sehingga rankingmenjadi segalanya,” terangnya.

Kemenristekdikti menemukan adanya indikasi pelanggaran etika dalam sejumlah karya ilmiah terpublikasi internasional yang dilakukan akademisi.  Indikator ketidakwajaran tersebut di antaranya melakukan self citation(sitasi karya sendiri), jumlah publikasi ilmiah yang tidak wajar, hingga penulis hantu (ghost author).

Temuan adanya publikasi yang tidak wajar tersebut diunggah oleh Tim Penilaian Angka Kredit (PAK) Kemenristekdikti di laman https://pak.ristekdikti.go.id/portal/.  Dalam temuan tersebut, dicontohkan ada seorang peneliti yang diduga melakukan publikasi ilmiah tidak wajar, dengan menghasilkan 69 karya ilmiah dan 239 sitasi dalam setahun. 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id