Kemenristekdikti Temukan Indikasi Publikasi Ilmiah Tak Wajar
Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, Medcom.id/Citra Larasati.
Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menemukan adanya indikasi pelanggaran etika dalam sejumlah karya ilmiah terpublikasi internasional yang dilakukan akademisi.  Indikator ketidakwajaran tersebut di antaranya melakukan self citation (sitasi karya sendiri), jumlah publikasi ilmiah yang tidak wajar, hingga penulis hantu (ghost author).

Temuan adanya publikasi yang tidak wajar tersebut diunggah oleh Tim Penilaian Angka Kredit (PAK) Kemenristekdikti di laman https://pak.ristekdikti.go.id.  Dalam temuan tersebut, dicontohkan ada seorang peneliti yang diduga melakukan publikasi ilmiah tidak wajar, dengan menghasilkan 69 karya ilmiah dan 239 sitasi dalam setahun. 


Dalam sitasi tersebut banyak ditemukan sitasi karya sendiri atau self citation.  "Banyak self citation (masturbasi publikasi)," mengutip bunyi salah satu poin laporan Temuan PAK Kemenristekdikti.

Baca: Enam Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jadi Universitas

Menanggapi temuan tersebut, Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, dalam rangka peningkatan mutu global, dosen tidak perlu terobsesi pada indeks Scopus.  "Tetapi harusnya lebih ke arah substansi kualitas penelitian dan inovasi serta kemanfaatan pada masyarakat," kata Ghufron kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 19 November 2018.

Soal publikasi terindeks Scopus, kata Ghufron, Direktorat SDID tidak mewajibkan akademisi hanya menggunakan publikasi terindeks Scopus.  "Yang terpenting publikasi di jurnal yang bereputasi dan disitasi secara wajar rasional. Dengan demikian tidak boleh dilakukan praktik-praktik tercela," ungkap mantan Wakil Menteri Kesehatan ini.

Terdapat indeks jurnal lain yang dapat digunakan, seperti Copernicus, Thomson, dan lain sebagainya.  Selama jurnal tersebut bereputasi dan terakreditas dengan jelas. 

Meski Ghufron mengakui, untuk saat ini, indeks Scopus adalah yang paling banyak digunakan.
“Bahwa benar Scopus merupakan indeks sitasi jurnal yang bagus, tetapi Scopus ini bukan satu-satunya," ujarnya.

Scopus, kata Ghufron, tentu ada kelemahannya. Para dosen dan profesor dapat menggunakan indeks lainnya, selama indeks tersebut mengindeks jurnal-jurnal internasional yang bereputasi. 

"Untuk itu, dalam menulis publikasi, tidak wajib menggunakan indeks Scopus. Persepsi ini yang perlu dipahami oleh setiap dosen dan profesor,” ucap Ghufron.

Baca: Sinergi Litbang Harus Berujung Hilirisasi Riset

Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir, Kemenristekdikti terus mendorong perguruan tinggi menjadi World Class University.  Salah satunya dengan menggenjot peningkatan jumlah karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal bereputasi internasional seperti Scopus.  Selama kurun waktu dua tahun terakhir, Kemenristekdkti membuat kebijakan untuk memacu para profesor dan lektor kepala menulis karya ilmiah yang terpublikasi di jurnal internasional.

Kebijakan tersebut tertuang di Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 Tentang Pemberian Tunjangan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor sebagai komitmen untuk memacu para profesor dan lektor kepala, agar menulis karya ilmiah di jurnal bereputasi internasional tersebut.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id