Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal . Foto: Dok. GSM
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal . Foto: Dok. GSM

Penelitian: Pembelajaran Jarak Jauh Turut Pengaruhi Emosi Siswa

Antara • 12 Agustus 2021 12:43
Jakarta:  Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal mengatakan, bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak hanya berdampak pada kualitas pendidikan.  Namun juga dapat mempengaruhi emosi siswa.
 
Hal itu terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan GSM pada 1.263 siswa mulai jenjang SD hingga SMA, menunjukkan bahwa 57 persen siswa SD dan SMP merasakan emosi negatif.  "Kemudian 70 persen siswa SMA juga merasakan emosi negatif,” ujar Rizal di Jakarta.
 
Emosi negatif tersebut terdiri dari banyak hal, mulai dari bosan, sedih, kurang memahami materi, stress, bingung, merasa kurang bersemangat, merasa terbebani, kurang puas, hingga merasa kesulitan dalam belajar.

“Semakin tinggi jenjang pendidikan, gap antara emosi positif dan negatif semakin lebar. Ini menunjukkan bahwa ada proses belajar, strategi belajar atau kurikulum yang ternyata mungkin tidak tepat atau tidak dibutuhkan siswa dan tidak sesuai dengan perkembangan mental siswa itu sendiri,” terang dia.
 
Dengan demikian, lanjut dia, terjadi proses belajar yang seragam baik itu jenjang SD hingga SMA. Saat gap emosi negatif semakin lebar di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ternyata tugas yang selama ini disampaikan guru tidak bisa meningkatkan kompetensi belajar siswa.
 
“Justru tugas-tugas tersebut menjadi beban. Juga ada kesulitan belajar yang dirasakan anak SD hingga SMA , artinya mereka merasa tidak produktif atau berkurang motivasi selama proses belajar,” terang dia.
 
Baca juga:  Survei: 44 Persen Anak Bosan Ikut Pembelajaran Jarak Jauh
 
Rizal menjelaskan, kondisi itu akan berampak pada penurunan kecerdasan dalam membangun peradaban yang semakin berdampak ke learning loss.
 
“Kesulitan belajar juga menempati posisi tertinggi, ditambah dengan jaringan dan kurangnya motivasi, yang berpotensi terhadap terjadi kehilangan kesempatan belajar ganda,” terang dia.
 
Belum Fokus
 
Hingga saat ini, Rizal belum melihat ada fokus pemerintah untuk menangani masalah kesulitan belajar dan demotivasi sebagai permasalahan mendasar di pendidikan sejak sebelum pandemi. Selama ini terlalu berfokus pada penyelesaian masalah jaringan.
 
Selain itu, semakin dewasa jenjang pendidikan siswa maka semakin merasa tidak berguna proses belajar PJJ karena merasa tidak produktif dan tidak mendapat keterampilan dan pengetahuan baru.
 
Rizal mendorong agar pemerintah dapat menyusun kurikulum darurat yang mendorong interaksi anak dengan lingkungan sosial sekaligus mengatasi persoalan nyata di kehidupan sehari-hari. Kurikulum darurat tidak cukup hanya mengurangi materi kurikulum kompetensi esensial saja, karena tetap tidak mengubah orientasi dan suasana kebatinan siswa.
 
Kurikulum tersebut terkoneksi dengan keluarga dan kehidupan sosial untuk meningkatkan karakter dan nilai-nilai siswa.  “Dukungan orang tua berupa dukungan emosional, sangat dibutuhkan. Peran keluarga sangat kuat untuk membantu proses belajar siswa agar lebih positif dan termotivasi,” imbuh dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan