Penyerahan penghargaan Newton Prize 2019. Foto: Medcom.id/intan Yunelia
Penyerahan penghargaan Newton Prize 2019. Foto: Medcom.id/intan Yunelia

Ilmuwan Indonesia Raih Newton Prize 2019

Pendidikan Penghargaan Pendidikan
Intan Yunelia • 15 Januari 2020 13:38
Jakarta:Kolaborasi riset antara ilmuwan Indonesia dan Inggris berhasil menghasilkan penghargaan Newton Prize 2019. Riset tersebut mengkaji dan meneliti bagaimana kesiapan komunitas pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim sejak dini.
 
Kegiatan penelitian yang dipimpin oleh Dr Harkunti Rahayu dari Institut Teknologi Bandung dan Profesor Richard Haigh dari University of Huddersfield. Keduanya mendapatkan sebagian pendanaan dari Newton Fund, yang jumlah totalnya mencapai satu juta poundsterling (setara Rp18 miliar).
 
Rahayu mengatakan, dampak perubahan iklim dalam meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem juga berdampak pada terjadinya bencana, seperti tsunami dan musibah banjir yang baru saja menimpa sejumlah wilayah di Indonesia. Bersama tim penelitinya, ia telah mengembangkan strategi baru untuk melindungi rumah, bisnis, dan infrastruktur di daerah perkotaan pesisir dengan lebih baik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tim menggabungkan dua pendekatan berbeda, pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim dan guna mengembangkan strategi baru terpadu yang dapat dimasukkan ke dalam rencana pembangunan Indonesia," kata Rahayu usai menerima penghargaan di Gedung Tribrata, Jalan Dharmawangsa III, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Para peneliti juga mengevaluasi kesiapsiagaan bencana tsunami di Indonesia dan negara-negara lain di Samudra Hindia, yang hasilnya kemudian digunakan untuk membantu penentuan prioritas bagi kedua institusi. Yaitu, Komisi Oseanografi Antar Pemerintah UNESCO dan Kelompok Koordinasi Antar Pemerintah untuk Peringatan Tsunami Samudera Hindia.
 
Menteri Riset, Teknologi (Menristek)/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyebutkan, penelitian ini merupakan salah satu contoh kerja sama internasional dalam sains dan inovasi dalam menjawab tantangan permasalahan dunia. Hasil penelitian ini dapat disesuaikan, agar dapat digunakan di negara dan wilayah lain yang berisiko terhadap dampak perubahan iklim, termasuk di Inggris.
 
"Skema seperti Newton ini adalah skema yang kami butuhkan karena dengan skema ini para peneliti Indonesia yang terpilih dan mempunyai klasifikasi, serta pengalaman bisa melakukan riset. Termasuk berkolaborasi dengan patner dari Inggris dari sumber pendanaan dari pihak UK dan Indonesia," ujar Bambang.
 
Ia juga mengapresiasi kerja keras peneliti yang memenangkan Newton Prize 2019. Ia berharap riset yang dilakukan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di pesisir pantai.
 
"Kita lihat bahwa penelitian beliau mempunyai impact sangat signifikan untuk masyarakat pesisir yang rawan bencana. Kita tahu Indonesia adalah negara yang rawan bencana dan otomatis harus diberi berhatian kepada masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai. Dengan pendekatan ini menunjukkan bahwa mitigasi bisa dilakukan sehingga korban bisa diminimalkan dengan membuat perencanaan pesisir yang baik," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif