Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid di Museum Nasional (2/1) Foto: Medcom.id /Muhammad Syahrul Ramadhan
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid di Museum Nasional (2/1) Foto: Medcom.id /Muhammad Syahrul Ramadhan

Indonesia Gencarkan Pengembalian Benda Bersejarah Nusantara di Eropa

Pendidikan kebudayaan museum
Muhammad Syahrul Ramadhan • 02 Januari 2020 21:21
Jakarta:  Indonesia tengah melakukan sejumlah upaya pengembalian benda-benda bernilai sejarah yang ada di Eropa.  Benda-benda bersejarah tersebut diperoleh secara tidak pantas oleh pihak asing pada zaman penjajahan. 
 
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hilmar Farid mengatakan, komunikasi dengan pihak-pihak terkait tengah gencar dilakukan.  Upaya ini, kata Hilmar, diyakini dapat membuka jalan kembalinya benda bernilai sejarah yang dibawa ke Eropa pada saat Indonesia dijajah ke pangkuan Indonesia.
 
"Sedang ada pembicaraan di seluruh penjuru Eropa mengenai pengembalian barang-barang yang diperoleh dengan cara tidak pantas di masa lalu. Itu kita masukkan dalam kerangka dan boleh kita lakukan," ujar Hilmar dalam Taklimat Media di Museum Nasional, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, Himar menjelaskan benda-benda bersejarah yang diperoleh dengan cara tidak pantas itu, bisa berupa barang yang dijarah ketika perang.  Baik di istana keraton maupun di rumah-rumah.
 
Meski bukan dalam waktu dekat, Hilmar mengatakan, pembicaraan tersebut dibarengi workshop benda-benda bersejarah, apa saja yang kemungkinan diperoleh dengan cara tidak pantas.
 
"Sekarang sedang ada proses pembicaraan dengan museum kerajaan. Ada proses pembicaraan dengan menggelar workshop. Benda-benda bersejarah dan kesenian yang diperoleh dengan cara tidak pantas. Itu eksusinya sampai kita benar-benar memilih. Karena untuk melihat sejarah apakah itu dijarah atau tidak, mereka juga tidak punya sejarahnya. Barangnya ada tapi tanpa penjelasan," ujarnya.
 
Karena ketidakjelasan itu, negara-negara di Eropa menggandeng Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal ini Dirjen Kebudayaan untuk mengurutkan asal-usul benda bersejarah tersebut.
 
"Karena catatan di sana tidak ada. Ada saja barangnya. Itu memerlukan kerja sama dengan kita, misalnya barang kesultanan tertentu yang disimpan di sana menyerahkan secara sukarela, tetapi ada catatan bahwa pernah terjadi perang dua kali, tiga kali, patut diduga, kita tidak memastikan 100 persen, tetapi patut diduga barang diperoleh dengan cara tidak pantas," tegas Hilmar.
 
Meski hampir semua negara di Eropa melakukan hal tersebut, saat ini pemerintah Indonesia tengah intensif berkomunikasi dengan sejumlah museum di negeri 'Kincir Angin'. 
 
"Selain Belanda ada Prancis. Tapi kita utamakan yang di Belanda. Kalau negara lain Inggris, Prancis sudah melakukan itu. Prancis lebih dulu mengembalikan," ungkapnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif