Ilustrasi bullying. Medcom
Ilustrasi bullying. Medcom

Mengintip Upaya Pencegahan Perundungan di SMPN 7 dan 12 Cirebon

Renatha Swasty • 02 Desember 2022 18:12
Jakarta: Perundungan masih menjadi masalah di kalangan remaja. Hasil PISA 2018 menyebut pelajar berusia 15 tahun di Indonesia pernah mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam satu bulan.
 
Kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan. Mengingat perundungan memiliki dampak sangat buruk baik bagi korban maupun pelaku.
 
Sebanyak dua SMP di Kota Cirebon melakukan upaya pencegahan dan penumpasan kasus perundungan di lingkungan satuan pendidikan melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Sebagai satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka, SMPN 7 dan SMPN 12 Cirebon memilih proyek bertema “Bangunlah Jiwa dan Raganya” yang mengangkat topik spesifik terkait antiperundungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepala SMPN 7 Cirebon, Euis Sulastri, menjelaskan latar belakang pemilihan topik dan pelaksanaan projek antiperundungan. Tema dipilih karena perundungan menjadi masalah luar biasa bagi remaja yang sedang bertumbuh.
 
"Jadi, kami ingin mengedukasi perundungan tidak baik untuk diri sendiri dan orang lain. Seluruh warga sekolah juga sudah menandatangani deklarasi komitmen anti perundungan,” kata Euis.
 
Euis mengungkapkan lewat kegiatan P5 antiperundungan terjadi perubahan sikap pada siswa di SMPN 7 Cirebon. Dia menyebut keributan antarsiswa kini cenderung menurun.
 
“Dulu banyak siswa yang harus sampai berkonsultasi dengan psikolog di RS Gunung Jati. Kalau sekarang angkanya menurun. Kalaupun masih ada yang ke psikolog lebih ke arah butuh pendengar yang baik dan bisa mengarahkan, bukan karena masalah perundungan,” tutur Euis.
 
SMPN 12 Kota Cirebon juga menangkap riak perundungan di lingkungan sekolah. Tidak ingin semakin menjadi, pihak SMPN 12 Cirebon memanfaatkan aktivitas P5 dalam Kurikulum Merdeka untuk membangun kesadaran siswa terkait perundungan.
 
“Menurut kami perundungan ini seperti api dalam sekam. Ada temuan dari teman-teman guru bahwa sejak kembali belajar secara tatap muka pasca pandemi, komunikasi antar siswa menjadi kurang pantas karena menggunakan kata-kata yang cenderung kasar. Selain itu, ketika saling bertemu, siswa menjadi lebih mudah melakukan body shaming," kata Kepala SMPN 12 Cirebon Iis Nuraeni.
 
Iis menyebut hal-hal seperti itu coba dikendalikan agar tidak berkembang lebih jauh dan nantinya memberikan dampak buruk. Pihaknya berusaha mencegah terjadinya kasus-kasus yang tidak diinginkan.
 
Pembina OSIS SMP SMPN 12 Cirebon, Desri Sri Wahyuni, menjelaskan tahapan proyek antiperundungan yang telah dilaksanakan. Pada aktivitas P5 antiperundungan siswa melewati beberapa tahap, yaitu tahap pengenalan, tahap kontekstualisasi, aksi, dan pengumpulan karya.
 
"Anak-anak membuat kampanye dan sosio drama mengenai perundungan. Lewat aktivitas P5 yang mengangkat isu perundungan diharapkan siswa dapat memahami tindakan-tindakan apa saja yang termasuk dalam perundungan, lalu merefleksikan sikapnya selama ini kepada teman-teman di sekolah,” ujar Desri.
 
Pelaksanaan P5 yang mengangkat tema antiperundungan di wilayah Kota Cirebon diharapkan menjadi upaya pencegahan sekaligus pengendalian kasus perundungan yang belakangan ini marak terjadi di lingkungan satuan pendidikan. Kegiatan P5 yang merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka secara perlahan akan membentuk nilai-nilai karakter positif sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
 
Baca juga: Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Bertumpu pada Transformasi Satuan Pendidikan

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif