Plt Sekretaris Ditjen Diktiristek Tjitjik Srie Tjahjandari. DOK Kemendikbusristek
Plt Sekretaris Ditjen Diktiristek Tjitjik Srie Tjahjandari. DOK Kemendikbusristek

Ditjen Diktiristek Dukung Kolaborasi Perguruan Tinggi dengan Pemda Melalui Kedaireka

Renatha Swasty • 19 Mei 2022 10:53
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendukung kolaborasi perguruan tinggi dengan pemerintah daerah (pemda) melalui Kedaireka. Kedaireka merupakan platform program kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), termasuk pemda untuk meningkatkan kemandirian bangsa dalam hal reka cipta dengan  menghasilkan inovasi yang bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan masyarakat, daerah, dan bangsa. 
 
Program Kedaireka dapat membuka kesempatan kolaborasi antara dunia usaha dan industri dengan 4.000 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia, serta hampir 300.000 dosen. 
 
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Nizam, menuturkan Kedaireka lahir sebagai katalis kerja sama antara pemimpin di daerah dan perguruan tinggi dengan mandat Tri Dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Program ini dapat menjadi salah satu sarana penyelenggaraan pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa sekaligus menjadi tempat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, ekonomi, dan sosial di setiap daerah. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Perguruan Tinggi hadir dengan Kampus Merdeka, yang tidak hanya belajar di dalam kelas, melainkan juga membangun desa, meningkatkan literasi, meningkatkan hasil perkebunan, sampai membangun desa wisata," kata Nizam dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Mei 2022. 
 
Dia menuturkan mahasiswa belajar dengan masyarakat. Mahasiswa bisa selama satu tahun membangun desa, kecamatan, dan seluruh Tanah Air. 
 
Sehingga, dalam waktu singkat dapat menyelesaikan PR untuk mengakselerasi potensi perguruan tinggi demi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat, serta mewujudkan kabupaten emas.
 
Nizam menyebut ada lima tema terkait program Kedaireka, yaitu ekonomi digital, kemandirian kesehatan, ekonomi hijau, pemulihan ekonomi dan pariwisata, serta ekonomi biru. Dia mengatakan melalui lima tema, bisa diidentifikasi area yang dapat digunakan untuk kolaborasi dengan perguruan tinggi. Sementara itu, untuk program kolaborasi dengan Apkasi, Kedaireka akan berfokus pada penekanan angka stunting. 
 
Plt Sekretaris Ditjen Diktiristek Tjitjik Srie Tjahjandari mengungkapkan Program Kolaborasi Kedaireka akan memberikan dana padanan. Misalnya, bila pemda mengajukan program pengentasan stunting yang bekerja sama dengan perguruan tinggi, pemda bisa mengajukan alokasi anggaran untuk mendapatkan dana padanan. Dia mengatakan area bisa diperluas dan area intervensi bisa diperdalam dengan dana padanan. 
 
“Ini adalah peluang yang besar di mana pemerintah daerah bisa mengetahui tahun ini. Di tahun depan, diharapkan peran serta pemda dalam program Kedaireka bisa ditingkatkan bukan hanya satu wilayah intervensi tertentu, melainkan juga wilayah intervensi lainnya," tutur dia. 
 
Tjitjik mengatakan pihaknya menyediakan 56 persen dana matching dari Kemdikbudristek dan 44 persen dana kemitraan. Kolaborasi bukan hanya berfokus untuk pengentasan permasalahan, tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas pemerintah daerah ke tingkat nasional dan internasional. 
 
Hingga saat ini, sudah ada beberapa contoh program Kedaireka yang berjalan. Seperti kolaborasi IPB dengan pemerintah NTT untuk mengatasi masalah stunting dan kolaborasi Universitas Negeri Makassar dengan pemerintah Gowa untuk industri kelapa terpadu. 
 
Tjitjik menyebut program-program seperti itu bisa menjadi area yang dapat dikolaborasikan bersama perguruan tinggi. Dia mengatakan dari dua batch program yang sudah dibuka, terlihat antusiasme yang sangat besar dari ekspektasi yang diperkirakan. 
 
Proposal yang masuk berjumlah 3.540. Berdasarkan proposal yang masuk, 69 persen menyasar lima tema, sedangkan 31 persen memiliki tema yang bersifat umum. Total dana matching fund yang diusulkan untuk proposal-proposal tersebut mencapai Rp4,6 triliun.  Sedangkan, total dana kontribusi dari mitra usaha dan mitra industri, termasuk mitra pemda sebesar Rp4,662 triliun. 
 
“Dengan adanya usulan Rp4,6 triliun, sementara dana yang tersedia hanya Rp1 triliun, maka tingkat kompetitifnya akan semakin tinggi. Oleh karenanya, dari pemda melalui Apkasi dapat mulai lebih awal menyiapkan program secara saksama dan diharapkan memiliki kualitas yang lebih.” tutur dia. 
 
Dia mengatakan pemasukan proposal untuk 2023 akan dibuka tahun ini. Apkasi diharapkan dapat mempersiapkan program lebih matang. 
 
Melalui Apkasi, diharapkan kolaborasi antara pemda dan perguruan tinggi dapat ditingkatkan. Sehingga, dapat terbangun pemerintah daerah berdaya guna dan kompetitif untuk menyelesaikan permasalahan lebih sistematis. 
 
Baca: Matching Fund Kedaireka, Hindari 4 Kesalahan Ini Saat Mengunggah Dokumen Administrasi
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif