Indonesia Emas tidak hanya berbekal bonus demografi. Indonesia Emas perlu diiringi kualitas sumber daya manusia yang mampu memahami persoalan dan tantangan strategis bangsa.
Founder dan Chairman The Kertanegara Institute, Raga Awandayu Prakasa, mengatakan generasi muda perlu dipersiapkan dengan kapasitas yang lebih luas, tidak hanya dari sisi akademik. Menurutnya, ada sejumlah kemampuan penting yang perlu dibangun agar bonus demografi benar-benar dapat menjadi kekuatan Indonesia.
“Kita sering berbicara mengenai bonus demografi sebagai sebuah peluang. Tetapi bagi kami, pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kita sudah cukup mempersiapkan diri untuk mengubah bonus demografi tersebut menjadi kekuatan bangsa,” ujar Raga dalam keterangannya Minggu 27 September 2026.
Hal tersebut disampaikan Raga dalam rangkaian School of Thought-Founding Associates Batch One melalui Studium Generale & Strategic Dialogue di Gedung Lemhannas RI, Jakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily dengan tema Membaca Arah Strategis Indonesia: Ketahanan Nasional dalam Kerangka Asta Cita.
Lantas, apa saja bekal yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi tantangan Indonesia menuju 2045? Berikut poin pentingnya!
3 Bekal Generasi Muda Menuju Indonesia Emas
Kemampuan Kepemimpinan
Menurut Raga, kepemimpinan tidak sebatas kemampuan memimpin orang lain. Generasi muda perlu memiliki kemampuan memahami persoalan, mengambil keputusan, membaca risiko, sekaligus mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena generasi muda nantinya akan berhadapan dengan berbagai persoalan yang kompleks. Tantangan pembangunan tidak selalu memiliki jawaban sederhana sehingga dibutuhkan kemampuan untuk melihat persoalan dari berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan.
Melalui School of Thought, The Kertanegara Institute mendorong generasi muda. Utamanya untuk membangun kemampuan tersebut melalui proses belajar dan pertukaran gagasan.
Studium Generale & Strategic Dialogue. Foto: The Kartanegara Institute
Memahami Kebijakan Publik
Bekal kedua adalah kemampuan memahami kebijakan publik. Raga menilai pendidikan bagi generasi muda seharusnya tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun kemampuan untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
Dengan memahami kebijakan publik, generasi muda dapat melihat bagaimana sebuah persoalan masyarakat berkaitan dengan keputusan pemerintah dan kepentingan publik yang lebih luas. Karena itu, ruang belajar yang mempertemukan generasi muda dengan berbagai perspektif dinilai penting untuk membangun tradisi berpikir kritis sekaligus memahami persoalan Indonesia secara lebih utuh.
“Think tank bukan hanya tentang menghasilkan kajian atau gagasan. Kami ingin membangun ruang untuk belajar, bertukar pikiran, dan mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami persoalan Indonesia secara lebih utuh,” kata Raga.
Wawasan Ketahanan Nasional
Bekal ketiga adalah pemahaman mengenai ketahanan nasional. Generasi muda perlu mengetahui bahwa perubahan lingkungan strategis dunia dapat berdampak langsung terhadap berbagai sektor di dalam negeri.
Raga mencontohkan perubahan geopolitik yang tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dan keamanan. Dinamika tersebut juga dapat memengaruhi ekonomi, energi, pangan, serta kepentingan strategis Indonesia.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pembelajaran yang diberikan dalam kegiatan di Lemhannas. Para peserta diajak melihat keterkaitan antara berbagai persoalan strategis dan arah pembangunan Indonesia.
Raga menambahkan, Asta Cita menjadi salah satu kerangka untuk memahami arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Kerangka tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai prioritas pembangunan melalui RPJMN 2025–2029 sebagai tahapan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, persiapan menuju 2045 tidak seharusnya baru dimulai ketika momentum tersebut sudah dekat. Generasi muda perlu mulai membangun kapasitas sejak sekarang.
“Persiapan menuju 2045 tentu tidak dimulai nanti. Ia dimulai dari hari ini,” tegas Raga.
Ia menegaskan School of Thought dibangun sebagai ruang belajar dan pertukaran perspektif bagi generasi muda. “Kami datang ke sini bukan karena merasa sudah memahami semuanya. Justru kami datang untuk belajar,” pungkasnya.