“Jika kedua syarat tersebut sudah jelas, BRIN akan memulai pembangunan. Kita akan bermitra dengan konsorsium swasta. Bandara ini nantinya bukan sekadar fasilitas negara untuk riset tetapi juga untuk bisnis peluncuran satelit,” ungkap Handoko dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 22 Oktober 2021.
Handoko menjelaskan urgensi pembangunan Bandar Antariksa di Indonesia tidak terlepas akan adanya kebutuhan terkait pengembangan teknologi keantariksaan nasional mengingat luasnya wilayah Indonesia yang terdiri banyak pulau. Di sisi lain Indonesia mempunyai pangsa pasar yang besar terkait keantariksaan dan sebagai upaya menciptakan nilai ekonomi dari kegiatan keantariksaan yang khususnya terkait peluncuran roket.
“Keunggulan geografis Indonesia yang terletak di khatulistiwa, menjadikan Indonesia cocok menjadi pusat peluncuran satelit. Indonesia berharap memiliki kemandirian dalam meluncurkan satelit untuk komunikasi, surveilans, mitigasi perubahan iklim, mitigasi bencana, dan sebagainya,” jelas Handoko.
Kepala Organisasi Riset (OR) Penerbangan dan Antariksa, Erna Sri Adiningsih menambahkan, LAPAN sudah melakukan studi fisibilitas pada lahan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan di Biak. Kandidat utama lokasi yang dipilih berdasarkan beberapa aspek hasil kajian adalah Pulau Morotai dan Pulau Biak.
Naskah urgensi pengembangan sudah diselesaikan sejak tahun 2019. Lokasi Biak diketahui sudah sesuai dalam hal teknis dan lingkungan secara fisik.
Baca juga: Menengok Isi Gedung Genomik BRIN di Cibinong Science Center
Namun untuk luasannya harus diperluas karena belum memenuhi persyaratan minimum 1.000 hektar untuk kebutuhan yang lebih besar, selain itu ada aspek sosial budaya yang harus dipikirkan secara serius. Stasiun bumi di Biak sudah ada sejak lama sebelum BRIN terbentuk.
"Posisinya berbeda dengan lokasi yang diisukan akan dibangun bandara roket pengorbit satelit,” terang Erna.
Selain meninjau calon lokasi Bandar Antariksa, Kepala BRIN juga berkesempatan mengunjungi Balai Kendali Satelit, Pengamatan Antariksa dan Atmosfer, dan Penginderaan Jauh Biak. Handoko berkeliling melihat berbagai fasilitas yang ada seperti stasiun kerjasama LAPAN-ISRO Biak2, dan proyek pembangunan Gedung Fasilitas Stasiun Bumi Pengendali dan Penerima Data Satelit disebut juga proyek antena SBSN yang saat ini masih dalam tahap pembangunan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News