Belajar Matematika. DOK Freepik
Belajar Matematika. DOK Freepik

Bukan Sekadar Coretan, Ternyata Begini Sejarah Simbol-Simbol Matematika

Renatha Swasty • 20 April 2026 18:03
Ringkasnya gini..
  • Simbol-simbol ini merupakan representasi dari perkembangan peradaban manusia yang telah berevolusi selama berabad-abad.
  • Adanya simbol-simbol ini membuktikan matematika adalah ilmu yang dinamis dan universal.
  • Memahami sejarah di balik setiap tanda artinya menghargai warisan yang menyatukan berbagai generasi dalam satu bahasa matematika.
Jakarta: Matematika sering kali dianggap sebagai mata pelajaran yang penuh dengan angka dan rumus rumit bagi sebagian besar siswa. Namun, di balik kerumitan tersebut, terdapat sejarah panjang dari berbagai budaya dan periode waktu yang membentuk simbol-simbol matematika menjadi bahasa universal yang dikenal saat ini.
 
Pengenalan terhadap sejarah terciptanya notasi ini sangat penting untuk menumbuhkan antusiasme dalam mempelajari matematika. Dengan memahami latar belakangnya, siswa dapat melihat setiap simbol adalah jembatan yang menghubungkan konsep abstrak dengan kehidupan nyata.
 
Penggunaan simbol seperti tambah (+), kurang (-), hingga tanda sama dengan (=) bukan semata-mata untuk mempermudah perhitungan di atas kertas saja. Lebih dari itu, simbol-simbol ini merupakan representasi dari perkembangan peradaban manusia yang telah berevolusi selama berabad-abad.

Memahami filosofi di balik sebuah tanda dapat memberikan perspektif baru bahwa matematika adalah bahasa komunikasi yang tepat. Setiap coretan memiliki makna mendalam yang diciptakan oleh para ilmuwan besar untuk menyederhanakan cara manusia memahami alam semesta secara sistematis.

Daftar Lengkap Sejarah Simbol Matematika

Berikut detail sejarah dari seluruh simbol matematika dikutip dari unggahan akun Instagram @puslapdik_dikbud:

Tanda Sama Dengan (=)

Tanda sama dengan diperkenalkan pada tahun 1557 oleh matematikawan asal Inggris, Robert Recorde. Pilihannya menggunakan dua garis sejajar untuk melambangkan kesamaan dengan filosofi bahwa "tidak ada yang lebih setara daripada itu."

Tanda Minus (-)

Johannes Widmann memperkenalkan simbol minus (-) pada tahun 1489. Widmann menggunakan garis horizontal pendek untuk menunjukkan pengurangan, namun literatur lain menyebut simbol ini telah melambangkan pengurangan selama berabad-abad dengan akar dari matematika Mesir dan Yunani kuno.

Tanda Bagi (÷)

Tanda 'bagi' juga dikenal sebagai obelus, pertama kali digunakan oleh matematikawan asal Swiss, Johann Rahn, pada tahun 1659. Simbol yang menampilkan garis horizontal dengan titik di atas dan di bawahnya ini mewakili pembagian atau pecahan antara dua angka.

Simbol Tak Terhingga (∞)

Simbol tak terhingga atau lemniskat diperkenalkan oleh matematikawan Inggris, John Wallis, pada tahun 1655. Simbol ini menggambarkan lingkaran tak berujung dan tidak berulang yang menandakan konsep matematika tentang ketakterhinggaan.

Simbol Penjumlahan (Σ)

Matematikawan Jerman, Leonhard Euler, memperkenalkan huruf kapital Yunani sigma (Σ) sebagai simbol penjumlahan pada abad ke-18. Simbol ini menunjukkan jumlah dari serangkaian angka, sering kali dalam konteks kalkulus atau aljabar.

Notasi Fungsi (f(x))

Notasi f(x) berakar pada karya matematikawan dan filsuf Prancis, René Descartes. Pada tahun 1600-an, Descartes menyarankan penggunaan huruf sebagai cara untuk melambangkan nilai-nilai yang tidak teridentifikasi dalam persamaan aljabar. Matematikawan Swiss, Leonhard Euler, kemudian menyempurnakan notasi f(x) pada pertengahan abad ke-18 dan menggunakannya untuk menunjukkan ketergantungan suatu fungsi pada variabel 'x'.

Tanda Plus (+)

Tanda plus berasal dari istilah Latin "et", yang berarti "dan." Simbol tersebut berevolusi menjadi bentuk "+" dan pertama kali didokumentasikan pada tahun 1489 dalam buku Mercantile Arithmetic atau Behende und hüpsche Rechenung auff allen Kauffmanschaff karya Johannes Widmann, seorang matematikawan Jerman, yang mengacu pada surplus dan defisit dalam masalah bisnis.

Tanda Perkalian (×)

Matematikawan Inggris, William Oughtred, memperkenalkan tanda perkalian (×) pada tahun 1631. Simbol perkalian menggantikan notasi sebelumnya, yaitu menempatkan titik (.) di antara dua angka untuk menunjukkan perkalian.

Tanda Akar Kuadrat atau Tanda Radikal (√)

Tanda akar kuadrat atau tanda radikal diperkenalkan oleh Christoph Rudolff, matematikawan asal Jerman. Dalam bukunya yang berpengaruh pada tahun 1525, “Coss”, tanda akar kuadrat berasal dari istilah Latin “radix”, yang berarti “akar”. Simbol ini secara konsisten menunjukkan akar kuadrat dari suatu bilangan.

Simbol Pi (π)

Matematikawan asal Wales, William Jones, memperkenalkan huruf Yunani ini pada tahun 1706 untuk mewakili perbandingan antara keliling dan diameter lingkaran. Matematikawan Swiss, Leonhard Euler, kemudian mempopulerkan simbol tersebut pada abad ke-18.

Simbol Integral (∫)

Matematikawan Jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz, memperkenalkan simbol integral (∫) pada akhir abad ke-17. Simbol ini menandakan proses pengintegrasian suatu fungsi, sebuah konsep dasar dalam kalkulus. Desain "S" yang memanjang terinspirasi oleh istilah Latin “summa”, yang berarti “jumlah” atau “total”.
 
Adanya simbol-simbol ini membuktikan matematika adalah ilmu yang dinamis dan universal. Dengan memahami sejarah di balik setiap tanda, manusia tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga menghargai warisan yang telah menyatukan berbagai generasi dalam satu bahasa matematika yang sama. (Talitha Islamey)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan