Kemenristekdikti Keluarkan Aturan Baru

Targetkan Indonesia Jadi leader di ASEAN

Intan Yunelia 17 Mei 2018 15:33 WIB
Publikasi Internasional
Targetkan Indonesia Jadi <i>leader</i> di ASEAN
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir. Foto: Humas Kemenristekdikti/Adnan
Jakarta:Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menargetkan publikasi internasional Indonesia menjadi leader di ASEAN, sekaligus mengejar ketertinggalan dari negara lain dengan meningkatkan jumlah publikasinya di 2019.

"Saya menargetkan, pada 2019 Indonesia menjadi leader di ASEAN, dan mengejar ketertinggalan dari negara lain, dengan meningkatkan jumlah publikasinya," kata Nasir saat Konferensi Pers Peluncuran Peraturan Menristekdikti Nomor 9 tahun 2018, tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah di Ruang VIP Lantai 2 Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta, Kamis, 17 Mei 2018.


Berdasarkan Publikasi Internasional ASEAN per tanggal 8 Mei 2018, jumlah publikasi internasional Indonesia berada di angka 8.269 publikasi.  Unggul dari Thailand yang berada di angka 5.153 publikasi. "Hal ini dapat dikatakan Indonesia sudah mampu mengungguli setelah 20 tahun berada di bawah Thailand," ungkap mantan Rektor Terpilih Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Aturan Baru

Untuk mendongkrak jumlah publikasi tersebut, Nasir mengeluarkan aturan baru yakni Permendikti Nomor 9 Tahun 2018 tentang Akreditasi Jurnal Ilmiah. Peraturan tersebut mengamanahkan lembaga akreditasi jurnal ilmiah menjadi satu di Kemenristekdikti.

Aturan baru tersebut dikeluarkan dalam rangka memenuhi kebutuhan jurnal ilmiah nasional terakreditasi, dan reformasi birokrasi pelayanan akreditasi jurnal ilmiah nasional.  Seluruh jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan masih berlaku masa akreditasinya, secara otomatis diakui oleh Kemenristekdikti hingga masa berlaku akreditasinya habis.

"Kemenristekdikti menerbitkan sertifikat baru bagi jurnal ilmiah yang telah diakreditasi oleh LIPI tersebut," kata Nasir.

Nasir mengatakan publikasi merupakan syarat mutlak untuk menjadi inovasi, yang nantinya produk inovasi tersebut akan menjadi hak paten. Sedangkan indikator paling dominan untuk mencapai publikasi tersebut adalah kemampuan menghasilkan publikasi dari riset.





 



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id