Gludhug memaparkan teori nenek moyang Indonesia berasal dari kawasan Afrika yang keluar pada 55-65 ribu tahun yang lalu. Melalui Wallacea, mereka sampai di Sahul, yang sekarang adalah benua Australia dan Papua pada 55 ribu tahun yang lalu.
Wallacea merupakan kawasan biogeografis yang terdiri dari sekelompok pulau-pulau dan kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah, terpisah dari paparan benua-benua Asia dan Australia oleh selat-selat yang dalam.
Perjalanan menuju Australia-Papua dari Afrika dibagi ke dalam dua hipotesa jalur perjalanan yakni, Utara dan Selatan. Perjalanan Utara dimulai dari Pulau Sulawesi dan perjalanan Selatan dimulai dari Jawa dan menyebrang ke Bali.
“Jadi, ada dua hipotesa, bagaimana manusia modern itu keluar dari Afrika kemudian mereka sampai ke Sahul. Yang pertama, melalui jalur Utara. Kita tidak tahu awalnya dari mana, yang pasti mereka dari Sunda, mereka menuju ke Pulau Sulawesi, kemudian mereka menyambung ke Pulau Peleng, ke daerah Maluku,” ujar Gludhug dalam webinar Menyingkap Misteri Asal-Usul Leluhur Kita di kanal YouTube BRIN Indonesia.
Kedua, kata dia, diduga mereka datang dari wilayah Selatan. Gludhug menyebut jalur Selatan dimulai dari Jawa, menyeberang ke Bali, Lombok, kemudian ke Flores, sampai ke Pulau Timor.
Gludhug mengatakan terdapat kejanggalan terhadap waktu perjalanan serta situs sejarah yang terdapat di Wallacea yang bahkan tidak sampai ke 50 ribu tahun. Oleh sebab itu, dia memutuskan meneliti menggunakan genetik untuk menghindari kejanggalan dan keanehan dalam penelitian.
“Yang menarik adalah bukti-bukti Wallacea tadi tidak sampai 50 ribu-60 ribu tahun yang lalu. Ini yang menarik nih, kita tahu bahwa 50 ribu tahun yang lalu orang sampai ke Australia. Tetapi mengapa yang di daerah Wallacea tidak ada yang lebih tua dari itu? Bahkan di daerah Sunda, paling tua itu di Malaysia, itu sekitar 48 ribu tahun yang lalu. Karena punya gap (dengan situs) makanya kita pake genetik aja, selama belum ada,” papar dia.
Gludhug mengungkapkan penelitiannya memakai DNA mitokondria yang hanya memiliki DNA dari ibu. Hal ini akan lebih mudah untuk menentukan perbedaan asal seseorang.
“Menggunakan DNA mitokondria, tidak ada percampuran antara DNA ayah dan Ibu, DNA mitokondria ini hanya diturunkan dari Ibu saja, Jadi, kita bisa melihat migrasi manusia modern yang dipengaruhi oleh maternal atau oleh pihak ibu,” papar dia. (Gabriella Carissa Maharani Prahyta)
| Baca juga: Penelitian Asal Usul Leluhur Indonesia: 2% Genome Orang Papua Berasal dari Afrika |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News