Pengunjung bersepeda mengelilingi kawasan Kota Tua Jakarta, Senin, 25 Desember 2017, Ant - Puspa Perwitasari
Pengunjung bersepeda mengelilingi kawasan Kota Tua Jakarta, Senin, 25 Desember 2017, Ant - Puspa Perwitasari

Berwisata Murah Sambil Mengenal Sejarah di Kota Tua

inten Suhartien • 28 Desember 2017 17:38
Jakarta: Berwisata di Kota Tua, Jakarta, menjadi pilihan warga Ibu Kota di masa libur akhir tahun. Di lokasi tersebut, wisatawan dapat menikmati berbagai objek bersejarah.
 
Dulu, Kota Tua disebut juga dengan Batavia Lama atau Oud Batavia. Luas wilayah kurang lebih 1,3 kilometer persegi yang berada di batas Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
 
Di abad ke-16 Jakarta Lama dikenal sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia. Sebab, lokasinya strategis dan menjualbelikan berbagai sumber daya.

Saat Medcom.id berkunjung ke kawasan tersebut, wisatawan tampak di berbagai sudut. Mereka menikmati beragam sisa peninggalan kolonial.
 
"Saya sudah sering ke sini walaupun bukan di masa liburan. Di sini, gedungnya unik karena berusia tua dan bergaya kolonial. Saya juga bisa menelusuri sejarah Jakarta di sini," ungkap Nadya, seorang pengunjung, kepada Medcom.id, Kamis, 28 Desember 2017.
 
Memang di Kota Tua, enam museum ditemukan. Yang paling sering dikunjungi adalah Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah. 
 
Dulu, bangunan itu difungsikan sebagai balai kota oleh Pemerintahan Belanda. Bangunannya menyerupai Istana Dam di Amsterdam, Belanda.
 
Bangunan utamanya terdiri dari dua sayap di sisi timur dan barat. Salah satu bagian di gedung itu berlokasi di bawah tanah. Di masa Pemerintahan Belanda, ruang bawah tanah digunakan sebagai penjara.
 
Setelah Indonesia merdeka, bangunan berubah nama menjadi Museum Djakarya Lama. Pada 30 Maret 1974, bangunan itu diresmikan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Nama bangunan berubah menjadi Museum Sekarah Jakarta.
 
Bangunan itu tak hanya menyajikan sejarah Jakarta. Pengunjung juga dapat menemukan koleksi lain seperti barang-barang peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, lukisan karya pelukis Indonesia Raden Saleh yang menceritakan penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda, serta Patung Hermes di halaman belakang.
 
Sedikitnya 23.500 koleksi bersejarah ditemukan di gedung itu. Bentuknya beragam mulai dari asli hingga replika.
 
Bila belum puas, pengunjung juga dapat mendatangi Museum Seni Rupa Keramik, Museum Wayang, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Bahari. Jika ingin merasakan jalan-jalan tempo 'doeloe', pengunjung dapat menikmati suasana keramaian di Pelabuhan Sunda Kelapa, Pecinan, hingga Galangan Kapal VOC.
 
Resti, warga asal Jakarta, mengaku cubaru pertama kali ke Kota Tua. Ia mendapat informasi soal Kota Tua dari temannya semasa ia masih duduk di bangku SMP.
 
Ia tertarik untuk berkunjung. Selain itu, sebagai mahasiswa, Nadya mengaku berwisata di Kota Tua tak menguras sakunya.
 
"Harga tiket masuknya murah untuk mahasiswa. Informasi di Museum juga membantu untuk saya mempelajari sejarah," ujar Resti.
 
Pengunjung bebas keluar masuk kawasan Kota Tua karena gratis. Tapi bila hendak masuk ke Museum Fatahillah, pengunjung harus membeli tiket sebesar Rp5.000 untuk umum, Rp3.000 untuk mahasiswa, dan anak-anak Rp2.000. Bila datang beramai-ramai, pengunjung hanya dikenakan tarif sebesar Rp1.700 per orang.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RRN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA