Pengamat Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji. Foto:  Medcom.id/Citra Larasati
Pengamat Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji. Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Masyarakat Masih Menunggu Lompatan Besar Nadiem

Pendidikan Kabinet Jokowi-Maruf 100 Hari Jokowi-Maruf
Muhammad Syahrul Ramadhan • 20 Januari 2020 21:02
Jakarta: Masyarakat masih menunggu lompatan besar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim pada sistem pendidikan yang dijanjikan akan berbasis teknologi. Kesanggupan tersebut pernah disampaikan Nadiem kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu, sebelum ia didapuk menjadi menteri yang menggawangi urusan pendidikan.
 
Pengamat Pendidikan dariCenter for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji mengatakan, ekspektasi masyarakat Indonesia terhadap kemajuan pendidikan di periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi-Ma'ruf Amin terbilang tinggi. Terutama pascapresiden mendapuk Nadiem Makarim untuk menakhodai Kemendikbud.
 
Namun sayangnya, menurut Indra, kemajuan yang diharapkan tersebut masih samar-samar terlihat, terutama di sepanjang 100 hari kerjanya. Indra mengatakan, jelang genap 100 hari kerja Kabinet Indonesia Maju, bidang pendidikan seharusnya sudah menunujukkan banyak perubahan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Utamanya lompatan kemajuan pendidikan yang dijanjikan Nadiem, beliau menjanjikan akan membangun sistem pendidikan berbasis teknologi sebagai lompatan besar dalam dunia pendidikan," kata Indra di Jakarta, Senin, 20 Januari 2020.
 
Menurut Indra, sebenarnya hal tersebut bukan janji muluk untuk seorang Nadiem. Sebab kelebihan Nadiem memang dalam bidang teknologi dan itulah yang menjadi salah satu alasan Presiden memilih eks bos Gojek ini untuk memimpin Kemendikbud.
 
Indramenilai Jokowi jatuh hati pada sosok Nadiem karena keberhasilannya di Gojek yang juga diakui masyarakat. Sehingga wajar jika ekpektasi masyarakat terhadap dunia pendidikan di era Nadiem pun begitu besar.
 
“Presiden Joko Widodo mengharapkan ada lompatan besar dalam sistem pendidikan Indonesia dengan memanfaatkan teknologi. Semua orang pun melihat potensi besar yang dapat dilakukan oleh Mendikbud mengingat latar belakang beliau sebagai seorang pengusaha digital tingkat global yang sudah mengangkat nama Indonesia dengan Gojek-nya,” jelas Indra.
 
Menurut Indra, hal yang bisa dilakukan dengan segera oleh Nadiem di 100 hari pertamanya ini adalah melakukan integrasi semua aplikasi yang digunakan institusi pendidikan Indonesia menjadi satu sistem. Itu, kata Indra, sangat mungkin dilakukan dengan sumber daya profesional sekelas pendiri Gojek.
 
“Selama ini aplikasi-aplikasi seperti dapodik (data pokok pendidikan) dan sebagainya dibuat oleh tenaga honor Kemendikbud yang tentunya kapasitas dan kredibilitasnya jauh dari profesional, sehingga selama ini selalu timbul masalah yang tak kunjung ada solusinya,” ungkapnya.
 
Selanjutnya, soal isu menahun bidang pendidikan, yakni kekurangan guru. Hal tersebut, kata Indra, sebenarnya juga bisa diatasi dengan mengoptimalkan teknologi sistem daring maupun luring.
 
“Walaupun itu bukan solusi yang ideal untuk mengatasi kekurangan guru, tapi akan jauh lebih baik dibanding tanpa guru sama sekali,” jelasnya.
 
Lebih lanjut Indra juga mengusulkan, agar ada pembelajaran berbasis big data analysis. Tujuannya untuk membantu memberikan diagnosa ataupun analisa terhadap kondisi pembelajaran siswa.
 
“Yang akan membantu guru dalam memberikan evaluasi dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia secara umum. Saya yakin sudah ada di dalam benak Mendikbud, hanya mungkin belum sempat disampaikan ke publik,” imbuhnya.
 
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menceritakan, bahwa Nadiem Makarim pernah meminta waktu 100 hari untuk membuat perubahan sistem pendidikan berbasis teknologi.
 
"Mas Menteri minta 'Beri waktu saya Pak 100 hari untuk menyiapkan dan merancang itu," kata Presiden Jokowi dalam acara Diskusi Mingguan dengan wartawan kepresidenan di Istana
Merdeka Jakarta, Jumat, 1 November 2019.
 
Presiden sendiri mengaku sudah memperhitungkan bahwa Nadiem dapat mengelola manajemen pendidikan yang sangat besar ini dengan menggunakan teknologi. "Ini adalah sebuah cara sehingga kecepatan perubahan betul-betul bisa kita antisipasi. Siapa yang bisa mengelola seperti itu? Ya yang menguasai teknologi. Siapa yang terbukti menguasai seperti itu? Ya beliau itu. Sudah membuktikan. Bisa tidak (sistem) dari situ (Gojek) dibawa ke dunia pendidikan? Ini yang mau kita buktikan," imbuh Presiden.
 
Nadiem pun, menurut Presiden, yakin dapat membawa sistem tersebut ke dunia pendidikan. "Beliau sampaikan ke saya, Bisa Pak, tapi berikan waktu. Saya beri waktu. Boleh. Kita lihat. Saya enggak mau rutinitas. Intinya itu. Bapak ibu yakin tidak? Dari apa yang disampaikan Mas Menteri ke saya, saya meyakini beliau bisa melakukan itu. Kalau itu terjadi. Nah, itulah yang namanya lompatan," kata Presiden.
 
Namun sampai sekarang belum ada gebrakan Nadiem terkait sistem pendidikan berbasis teknologi tersebut. Teranyar Nadiem justru mengeluarkan empat program ‘Merdeka Belajar’ yang berisi tentang penggantian Ujian Nasional, Ujian Sekolah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, dan Penerimaan Peserta Didik Baru.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif