Ilustrasi:  Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal
Ilustrasi: Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal

SMK Kekurangan 91 Ribu Guru Produktif

Pendidikan Kebutuhan Guru
Muhammad Syahrul Ramadhan • 09 Oktober 2019 15:07
Jakarta: Plt. Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo menyebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kekurangan 91 ribu guru produktif. Kekurangan tersebut lantaran pembangunan SMK tidak dibarengi dengan penyiapan guru produktif.
 
"Kita kan dulu membuat kebijakan SMK Bisa, jumlah SMK dibuat banyak sama dengan SMA, sekarang SMK sudah lebih banyak dari SMA. Tetapi yang kita lupa menyiapkan guru produktifnya," kata Patdono di sela-sela 1st Indonesia Vocational Education and Training Summit 2019, di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Rabu, 9 Oktober 2019.
 
Patdono mengatakan, ada tiga macam guru di SMK, yakni guru normatif yang mengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, kemudian guru adaptif mengajar Biologi, Fisika, Matematika dan guru produktif yaitu guru yang mengajar sesuai dengan kejuruannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Guru produktif otomotif, elektro. Nah kita enggak menyiapkan guru produktifnya, sehingga sekarang kita kekurangan 91 ribu guru produktif," ungkapnya.
 
Hal tersebut, kata Patdono, akhirnya membuat guru adaptif terpaksa "disulap" menjadi guru produktif. Dengan cara mengikuti pelatihan khusus selama tiga bulan.
 
"Selama ini yang dilakukan guru-guru adaptif disulap dalam waktu pendek tiga bulan untuk menjadi guru produktif, akhirnya menjadi guru produktif-produktifan, mutunya enggak bagus," tuturnya.
 
Seharusnya, kata Patdono, untuk menyiapkan guru SMK membutuhkan waktu lebih lama dari menyiapkan SMK itu sendiri. Paling tidak, membutuhkan lima tahun, empat tahun untuk mendapatkan gelar sarjana dan satu tahun untuk pendidikan profesi guru.
 
"Harusnya itu sebelum membuat SMK lima tahun sebelumnya guru, itu problem kita. Di SMK kita problem, juga di pendidikan vokasi itu," terangnya.
 
Sebelumnya, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) membuka seleksi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Mandiri yang digelar secara nasional pada November 2019. Untuk angkatan pertama, disiapkan sekitar 12.000 kuota PPG Prajabatan Mandiri yang terbuka bagi lulusan sarjana pendidikan maupun nonpendidikan.
 
Direktur Pembelajaran, Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemenristekdikti Paristiyanti Nurwardani menyebut, guru SD dan SMK menjadi kebutuhan terbanyak saat ini. Untuk itu Paristiyanti sangat berharap, dalam PPG Prajabatan Mandiri kali ini dapat diminati oleh lulusan sarjana terapan untuk mengisi kekurangan guru di SMK tersebut.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif