Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Yuda Turana, mengatakan pihaknya turut memberikan pengalaman belajar inspiratif bagi anak SD untuk mengenali STEM sejak dini. Unika Atma Jaya sengaja membuka akses kampus demi memberikan pengalaman sains yang belum tentu bisa diperoleh di sekolah.
“Kalau anak SD bisa saja nanti ke depannya enggak masuk Atma Jaya juga bisa saja. Tetapi di bayangan kita, suatu saat ada seseorang yang mungkin bisa jadi peraih Nobel dari Indonesia, dan dia terinspirasi dari lab yang pernah dikunjungi waktu SD,” kata Yuda di Tangerang Selatan, Jumat, 16 Oktober 2026.
Unika Atma Jaya mengundang siswa SD dalam peluncuran Science Techno Park Unika Atma Jaya di kampus BSD, Tangerang Selatan demi mengenalkan STEM sejak dini. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 156 siswa kelas 5 SD Tarakanita diajak mencoba langsung aktivitas di enam laboratorium.
Yuda menyebut pengenalan sains sejak dini penting karena anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi besar. Pengalaman konkret di laboratorium diharapkan membuat mereka tidak hanya mengenal konsep sains melalui gambar atau hafalan di buku, tetapi juga memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Kadang-kadang anak-anak itu kalau ditanya, kimia kayak menakutkan banget karena rumus-rumusnya, matematika apalagi. Padahal IPA itu sesuatu yang nature,” ujar dia.
Dekan Fakultas Biosains FBTI Unika Atma Jaya, Diana E. Waturangi dengan Rektor Unika Atma Jaya, Yuda Turana. Foto: Ilham Pratama/Medcom
Dekan Fakultas Biosains, Teknologi dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya, Diana Elizabeth Waturangi, menjelaskan kegiatan tersebut dirancang agar siswa dapat mencoba beragam bidang sains dan teknologi secara langsung. Para siswa berkeliling ke enam laboratorium dan mendapatkan pengalaman belajar langsung dengan dosen dan mahasiswa.
Aktivitas yang dijalankan siswa SD di lab kampus mencakup pembuatan minuman dengan teknik enkapsulasi, kultur jaringan tanaman, pencetakan tiga dimensi (3D printing), pengembangan gim, robotik, serta pengenalan sistem rantai pasok atau supply chain. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada beragam penerapan sains dan teknologi yang dekat dengan kehidupan mereka.
"Pengenalan ini diharapkan membantu anak melihat bahwa sains bukan sekadar materi pelajaran, melainkan juga sarana untuk menciptakan sesuatu dan memecahkan masalah," kata Diana.
Siswa melakukan uji laboratorium di STP Unika Atma Jaya. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Diana mengatakan Science Techno Park juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat luas. Fasilitas tersebut memiliki 32 laboratorium yang selama ini digunakan untuk kegiatan akademik, kunjungan siswa, serta sejumlah aktivitas bersama komunitas.
Menurut dia, pengenalan STEM sejak dini juga penting karena Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan sains dan teknologi. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang berpotensi dikembangkan melalui riset dan inovasi.
Ke depan, Unika Atma Jaya berencana menjadikan kunjungan siswa SD sebagai kegiatan berkala, dengan perkiraan pelaksanaan setiap dua bulan sekali. Sebelumnya, kampus juga telah rutin menerima kunjungan siswa SMP dan SMA untuk mengenal fasilitas laboratorium.
Rektor Yuda menekankan kegiatan ini bukan cuma membuat anak langsung menguasai teori atau menghafal konsep sains. Hal yang lebih penting ialah memantik rasa ingin tahu dan membantu mereka menemukan bidang yang ingin didalami.
Ia mencontohkan anak yang bercita-cita membangun jembatan atau menciptakan tanaman baru dapat terdorong mempelajari matematika, kimia, dan ilmu dasar lainnya karena memahami kegunaan pengetahuan tersebut untuk mewujudkan cita-citanya. “Pikirannya kita coba balik. Inspirasinya kita bangun dulu di sini,” ujar dia.