Ilustrasi  (Foto Pixabay)
Ilustrasi (Foto Pixabay)

Bacaan Lengkap Salawat Mahalul Qiyam Maulid Nabi Muhammad SAW

Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Agustus 2026 12:54
Ringkasnya gini..
  • Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semakin dekat. Pembacaan Mahalul Qiyam pun menjadi salah satu momen yang penting yang tidak boleh terlewatkan.
  • Salawat ini dikenal luas lewat lantunannya yang berbunyi “Ya Nabi Salam ‘Alaika.”
  • Para jamaah dalam pembacaan Mahalul Qiyam berdiri seraya melantunkan salawat.

Jakarta: Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semakin dekat. Pembacaan Mahalul Qiyam pun menjadi salah satu momen yang penting yang tidak boleh terlewatkan. 

Pada umumnya, para jamaah dalam pembacaan Mahalul Qiyam berdiri seraya melantunkan salawat. Pelantunan salawat ini dilakukan sebagai simbol penghormatan dan ungkapan cinta kepada Rasulullah terutama pada peringatan hari kelahirannya. Melansir dari situs Mozaik Islam, “Mahalul Qiyam” memiliki arti “berdiri” sebagai gambaran hormat, rasa syukur, dan kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Salawat ini dikenal luas lewat lantunannya yang berbunyi “Ya Nabi Salam ‘Alaika.” Simak lirik lengkap beserta artinya di bawah ini.

Bacaan Mahalul Qiyam

Lirik Mahalul Qiyam dibagi menjadi empat bagian yakni, bait pembuka, bait utama (Ya Nabi Salam ‘Alaika), bait puji-pujian, dan doa penutup dan harapan syafaat.

  1. Bait Pembuka

صَلَّى اللهُ عَلى مُحَمَّدْ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا جَدَّ الحُسَيْنِ مَرْحَبًا

Shallallahu ala Muhammad, shallallahu alaihi wasallam, marhaban ya marhaban ya marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban

Artinya: “Allah bersalawat untuk Nabi Muhammad SAW, Allah bersalawat dan mengucap salam sejahtera untuknya, selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang kakek dari Husain, selamat datang.”

  1. Bait Utama

 يَا نَبِيْ سَلَامٌ عَلَيْكَ، يَا رَسُوْل سَلَامٌ عَلَيْكَ، يَا حَبِيْب سَلَامٌ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

Ya nabi salamun alaika, ya rasul salamun alaika, ya habib salamun alaika, shalawatullahi alaika

Artinya: “Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, wahai Rasul, salam sejahtera untukmu, wahai kekasih, salam sejahtera untukmu, dan selawat Allah untukmu.”
 

  1. Bait Puji-Pujian

 أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُوْرُ، مِثْلَ حُسْنِكَ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُوْرِ

Asyraqal badru alaina, fakhtafat minhul buduru, mitsla husnika ma raaina, qattu ya wajhas sururi

Artinya: “Bulan purnama telah terbit menyinari kami, pudarlah purnama-purnama lainnya, belum pernah aku melihat keindahan sepertimu wahai yang berwajah penuh kebahagiaan.”

أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ، أَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرٍ، أَنْتَ إِكْسِيْرٌ وَغَالِي، أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُوْرِ

Anta syamsun anta badrun, anta nurun fauqa nurin, anta iksirun wa ghali, anta misbahus suduri

Artinya: “Engkau bagai matahari, engkau bagai bulan purnama, engkau cahaya di atas cahaya, engkau bagaikan sesuatu yang sangat berharga, engkaulah pelita hati.”

يَا حَبِيْبِيْ يَا مُحَمَّدُ، يَا عَرُوْسَ الْخَافِقَيْنِ، يَا مُؤَيَّدْ يَا مُمَجَّدُ، يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَيْنِ

Ya habibi ya Muhammad, ya arusal khafiqaini, ya muayyad ya mumajjad, ya imamal qiblataini

Artinya: “Wahai kekasihku wahai Muhammad, wahai yang dimuliakan di timur dan barat, wahai yang dikuatkan dan diagungkan, wahai imam dua kiblat.”

مَنْ رَأَى وَجْهَكَ يَسْعَدُ، يَا كَرِيْمَ الْوَالِدَيْنِ، حَوْضُكَ الصَّافِي الْمُبَرَّدُ، وِرْدُنَا يَوْمَ النُّشُوْرِ

Man raa wajhaka yasadu, ya karimal walidaini, haudhukas safil mubarradu, wirduna yauman nusyuri

Artinya: “Siapa yang melihat wajahmu akan berbahagia, wahai yang mulia kedua orang tuanya, telagamu jernih dan sejuk, itulah yang akan kami datangi pada hari kebangkitan.”

  1. Doa Penutup dan Harapan Syafaat

 رَبِّ فَارْحَمْنَا جَمِيْعًا، وَامْحُ عَنَّا السَّيِّئَاتِ

Rabbi farhamna jamian, wamhu annas sayyiat

Artinya: “Ya Rabb, sayangilah kami semua dan hapuslah segala keburukan kami.”

وَصَلَاةُ اللهِ تَغْشَى، عَدَدَ تَحْرِيْرِ السُّطُوْرِ، أَحْمَدَ الْهَادِي مُحَمَّد، صَاحِبَ الْوَجْهِ الْمُنِيْرِ

Wa shalatullahi taghsya, adada tahriris suturi, Ahmadal hadi Muhammad, sahib al wajhil munir

Artinya: “Rahmat Allah semoga senantiasa tercurah sebanyak tulisan yang tergores, kepada Ahmad sang pemberi petunjuk, yaitu Nabi Muhammad, pemilik wajah yang bercahaya.”

Berdiri saat Pembacaan Mahalul Qiyam Apakah Harus?

Pertanyaan anjuran ini memang sering dilayangkan. Terutama mengenai sumber yang menganjurkan hal ini harus dilaksanakan. Pada dasarnya tradisi ini lahir dari sebuah kebiasaan yang dilakukan turun-temurun sejak zaman Nabi. 

Dalam sebuah kitab karya Sayyid Bakri bin Sayid Muhammad syatha Ad-Dimyathi, berjudul I’anatut Thalibin, terdapat sebuah kisah dari Al-Habibi tentang Imam As-Subki. 

Berdasarkan kisahnya, Imam As-Subki sedang berkumpul bersama para ulama dan datanglah Rasulullah SAW. Saat syair pujian mulai dilantunkan, Imam As-Subki langsung berdiri diikuti oleh para ulama lain yang hadir. Seketika suasana hangat, penuh penghormatan, dan kebahagiaan pun menyelimuti seisi majelis.

(Vira Farhatul Maula)


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan