Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika saat berbagi pengalaman dalam Career Day di Sekolah Global Sevilla.  Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika saat berbagi pengalaman dalam Career Day di Sekolah Global Sevilla. Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Jangan Telat Mengenali Passion Anak

Pendidikan pendidikan anak
Citra Larasati • 12 November 2019 13:49
Jakarta: Mengenali minat, bakat dan passion sejak dini menjadi salah satu kunci suskes anak di masa mendatang. Tidak hanya di masa bangku sekolah, kesuksesan itu akan terbawa hingga anak menjalani kehidupan kariernya.
 
Pernyataan itu disampaikan Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika, saat berbagi pengalaman dengan siswa di Global Sevilla School, Jakarta di Career Day beberapa akhir pekan lalu. Menurut pria yang akrab disapa Toto ini, anak sering kali terjebak dalam minat dan bakat yang dipilihkan orang tuanya.
 
Mulai dari memilihkan peminatan di sekolah, ekstrakurikuler, jurusan saat kuliah, bahkan orang tua kerap memaksakan jenis karier yang cocok untuk anaknya. "Ini banyak terjadi, orang tua memilihkan jurusan sekolah anak, itu karena kita sendiri tidak tahu sejak awal kesukaan kita apa. Padahal kunci sukses itu adalah mengenali dan fokus sama passion," kata Toto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Toto, mengenali passion saja tidak cukup untuk membangun karier yang baik di masa depan. Pekerjaan rumah lainnya justru bagaimana seseorang dapat fokus dan konsisten terhadappassion-nya.
 
Kemudian ia menceritakan perjalanan passion dan kariernya di dunia politik. Toto mengaku sempat melenceng dari passionnya di dunia politik. Ia sempat bekerja di sebuah bank swasta, bahkan ia nyaris menjadi dosen karena ditawarkan beasiswa.
 
"Waktu itu saya ditawari beasiswa kuliah di Australia, tapi syaratnya harus jadi dosen setidaknya lima tahun. Saya tolak, karena menjadi dosen bukan passion saya," kata Toto.
 
Menolak beasiswa dalam kondisi ekonomi keluarga kalai itu, diakui Totok tidaklah mudah. "Saya sempat jualan kaki lima, jualan nasi uduk, es campur sambil kuliah,to get survive," tutur Toto.
 
Kemudian Toto berhasil lulus dan sempat kerja mencoba bekerja di salah satu bank swasta. "Kerja di bank, rutinitas tidur bangun, tidur bangun. Akhirnya saya hanya bertahan only for one year. Akhirnya di bank saya tidak dapat karier. Sampai saya dapat beasiswa S2 di UI, karena saya lulus sebagai best graduate," terang lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Bandung ini.
 
Saat di UI, Toto mendapat kesempatan belajar ekonomi hingga mendapat gelar master di bidang ekonomi. "Untuk sejenak saya lupakan politik. Kemudian tanpa sengaja bertemu dosen saya di Unpar, beliau mau membangun konsultan politik, butuh analis," ujar Toto.
 
Gaji yang ditawarkan di konsultan politik bersama mantan dosennya tersebut tidak sebesar ketika ia bekerja di bank. Namun karena ingin kembali ke passion-nya di bidang politik, Toto pun memilih untuk meninggalkan kariernya di bank.
 
"Untungnya orang tua saya sangat suportif. Orang tua hanya menanyakan, passion kamu mau kemana, so go ahead. Hingga kini akhirnya saya sepenuhnya pemilik Charta Politica," papar Toto.
 
Kisah Toto yang sukses berkat fokus pada passion-nya ini yang kemudian ingin dibagi oleh Global Sevilla School kepada peserta didiknya melalui program Career Day yang rutin digelar setiap tahunnya. Program ini diperuntukkan bagi siswa kelas VII-XII.
 
"Saya kira tidak ada kata terlalu dini untuk mengetahui passion diri kita. Justru jangan sampai telat kita mengenali passion anak-anak kita," kata Superintendent Sekolah Global Sevilla, Michael Thia.
 
Dalam Career Day tahun ini, Sekolah Global Sevillamenghadirkan sejumlah profesional sebagai narasumber untuk membuka wawasan para siswa tentang profesi dan dunia kerja yang akan dihadapi di masa mendatang.
 
"Kita ingin membuka pandangan dan pemikiran para siswa tentang profesi-profesi yang ada di dunia kerja," ujar Michael.
 
Menurutnya, pemahaman dini tentang dunia kerja sejatinya perlu diberikan. Harapannya, para siswa bisa fokus mempelajari hal-hal yang dapat menunjang cita-citanya. "Sehingga ketika mereka lulus nantinya langsung bisa menentukan tujuan dan arahnya mau ke mana," ujarnya
 
Para narasumber yang dihadirkan, Country Chief Financial Officer Lazada Indonesia, Anastasia Natalia Wibowo; Vice President and General Counsel PT Chevron Pacific Indonesia, Debbie Maya Chastity; International Education and Development Specialist, Laetitia Lemaistre, Doctor and CEO PT Warna Langit Indonesia, dr Ratih Citra Sari, Executive Director of Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, dan Chief Executive Officer (CEO), Vice President and Director Erajaya Group, Hasan Aula.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif