Kepergian sosok yang selama 36 tahun menggenggam kekuasaan absolut Iran itu meninggalkan kekosongan besar di puncak pemerintahan Republik Islam tersebut. Di tengah situasi yang masih kacau akibat gempuran bom AS-Israel, nama satu sosok terus mencuat sebagai kandidat terkuat penerus takhta kepemimpinan tertinggi Iran.
Sosok tersebut adalah Mojtaba Khamenei. Sebelum membahas lebih jauh soal dinamika politik Iran pascaserangan, yuk kenalan lebih dekat dengan putra kedua Ali Khamenei yang kini menjadi sorotan dunia.
Siapa itu Mojtaba Khamenei?
Melansir laman Al Jazeera, Mojtaba Khamenei, pria berusia 56 tahun itu, disebut sejumlah media Israel dan Barat sebagai kandidat terdepan untuk menduduki posisi pemimpin tertinggi Republik Islam. Meski demikian, belum ada pengumuman resmi dari otoritas Iran soal hal tersebut.Mojtaba dilaporkan tidak berada di lokasi saat serangan berlangsung dan selamat dari rentetan pengeboman yang masih terus mengguncang Iran. Menariknya, meski namanya begitu dikenal di lingkaran kekuasaan, Mojtaba dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup.
Tidak banyak informasi yang beredar mengenai sosok Mojtaba Khamenei. Namun, putra kedua Ali Khamenei itu kini menjadi nama yang paling banyak diperbincangkan sebagai calon terkuat pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Jejak pendidikan dan karier Mojtaba Khamenei
Tidak banyak informasi mengenai sosok Mojtaba Khamenei. Namun, putra kedua Ali Khamenei itu kini menjadi nama yang paling banyak diperbincangkan sebagai calon terkuat pemimpin tertinggi Iran berikutnya.Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, sebuah kota yang menjadi pusat keagamaan penting bagi penganut Syiah Dua Belas Imam. Ia tumbuh di tengah keluarga ulama yang berada di pusaran perubahan besar Iran, saat ayahnya, Ali Khamenei.
Ia aktif dalam gerakan penggulingan rezim Shah pada 1970-an dan kemudian menjadi tokoh berpengaruh di Republik Islam yang berdiri pada 1979. Berikut riwayat pendidikan hingga karier Mojtaba Khamenei sebagai berikut:
Riwayat pendidikan Mojtaba Khamenei
- Menyelesaikan pendidikan menengah pada 1987
- Studi keagamaan di Seminari Qom di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif terkemuka Syiah (akhir 1990-an)
- Mengajar di Seminari Qom, termasuk kelas-kelas tingkat lanjut yang biasanya hanya diampu oleh ulama paling senior
Riwayat karier Mojtaba Khamenei
- Bergabung dengan IRGC dan bertugas di penghujung Perang Iran-Irak (1987-1988)
- Membangun jaringan kuat di dalam IRGC sekaligus menjalin kedekatan dengan para ulama senior Iran (awal 2000-an)
- Menjadi tokoh berpengaruh di Kantor Pemimpin Tertinggi, sekaligus bertindak sebagai makelar kekuasaan bagi sang ayah
Ia bahkan terang-terangan meragukan peluang Mojtaba untuk benar-benar menjadi pemimpin tertinggi, meski tidak menjelaskan alasannya secara rinci. “Kemungkinan dia menjadi penerusnya rendah,” kata Trump dikutip dari laman The Chosun Daily, Jumat, 6 Maret 2026.
Trump menegaskan pemimpin baru Iran harus dipilih bersama-sama antara AS dan Iran agar situasi serupa tidak terulang kembali setiap lima tahun. Ketika ditanya soal kemungkinan Reza Pahlavi, putra mahkota Iran terakhir yang kini hidup di pengasingan, untuk mengambil alih kepemimpinan.
Trump menyebut semua pihak masih masuk dalam daftar kandidat dan situasinya masih terlalu dini untuk disimpulkan. “Kita harus memilih orang itu (pemimpin berikutnya) bersama dengan Iran,” ujar Trump.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News