Plt. Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno. Foto: Medcom.id
Plt. Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno. Foto: Medcom.id

Kemendikbud: Asesmen Nasional Digelar Sebelum Bulan Puasa

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan Asesmen Kompetensi Minimum
Citra Larasati • 16 November 2020 19:42
Jakarta: Pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) untuk pertama kalinya akan digelar mulai tahun depan, tepatnya sebelum memasuki bulan puasa Ramadhan 2021. Hasil Asesmen Nasional tahun depanakan digunakan sebagaibaselinedata tanpa konsekuensi pada siapapun, baik itu siswa, guru, kepala sekolah, sekolah maupun pemerintah daerah.
 
Plt. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Totok Suprayitno mengatakan, pelaksanaan AN akan dibagi menjadi beberapa waktu atau tidak digelar secara serentak. Yakni sekitar Maret atau April untuk jenjang SMA, SMA, dan SMK sederajat dan jenjang SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada Agustus 2021.
 
"SMP, SMA sederajatdilaksanakan sebelum puasa, sekitar Maret April secara bergantian, tidak serentak agar bisa berbagi sumber daya," terang Totok dalam Rapat Kerja antara Komisi X DPR dengan Mendikbud, Nadiem Makarim, Senin,16 November 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Kemendikbud: Tak Perlu Bimbel untuk Hadapi Asesmen Nasional
 
Dimulai dengan AN jenjang SMA, kemudian SMK agar infrastruktur SMA bisa digunakan di SMK, lalu setelah itu SMP seperti strategi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Laporan penyelenggaraan AN jenjang SMP dan SMA sederajat akan selesai di bulan Juli, sedangkan untuk pelaksanaan AN di SD dan MI di Agustus dan laporan selesai pada Oktober 2021.
 
Meski ditegaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, bahwa tidak perlu ada persiapan khusus dalam pelaksanaan AN, seperti bimbingan belajar, namun Totok mengatakan bahwa sejumlah persiapan tetap dapat dilakukan dalam bentuk lain.
 
"Bapak Ibu guru bisa mulai mengubah cara pembelajaran dan asesmennya. Kalau dulu selalu gunakan pilihan ganda dalam membuat soal ujian, atau jawaban yang hanya punya satu jawaban benar, maka sekolah diharapkan bisa memfasilitasi guru untuk lakukan perbaikan pembelajaran kepada dan asesmen yang lebih mengasah nalar peserta didik," tegas Totok.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif