Pembangunan Dilakukan Secara Swakelola

Kemendikbud Gelontorkan Rp100,13 Miliar untuk Bangun SD

Antara 29 Oktober 2018 13:28 WIB
pembangunan sekolah
Kemendikbud Gelontorkan Rp100,13 Miliar untuk Bangun SD
Siswa belajar di ruang kelas yang mengalami kerusakan di SDN Sukasari 01, Desa Sukasari, Rumpin, Bogor, MI/Ramdani.
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelontorkan dana sebesar Rp100,13 miliar untuk pembangunan unit sekolah baru (USB) dan renovasi sekolah dasar (SD) di 2018.  Pembangunan dan renovasi tidak menggunakan kontraktor, melainkan dilakukan secara swakelola dengan mengoptimalkan keterlibatan warga sekitar sekolah.

"Kemendikbud menggelontorkan anggaran sebesar Rp100,13 miliar, untuk membangun 15 USB dengan anggaran Rp32,94 miliar. Juga merenovasi 53 SD rujukan dan SD lainnya yang sangat prioritas di berbagai wilayah Indonesia, dengan anggaran Rp67,19 miliar," ujar Direktur Pembinaan SD, Kemendikbud, Khamim, seperti dikutip dari Antara, Senin, 29 Oktober 2018.


Khamim mengatakan, untuk mendapat pembangunan dan renovasi ini, data sekolah diperoleh dari hasil pemetaan sistem zonasi. Khamim menegaskan pemerintah ingin memastikan bangunan sekolah yang dibangun berkualitas baik, aman, dan nyaman digunakan untuk proses pembelajaran.

Ia ingin penggunaan anggaran sesuai dengan perencanaan, sehingga akuntabilitas pelaporan keuangannya dapat tercapai.  "Kami ingin memastikan, pelaksanaan pada tahap satu minimal 50 persen proses pembangunan dan renovasi sudah berjalan. Alhamdulillahsudah ada yang 53%, 51%, bahkan ada yang 80% dari sekolah-sekolah yang hadir," jelas dia.

Secara Swakelola

Program pembangunan USB dan renovasi SD ini dilakukan secara swakelola.  Tidak hanya melibatkan peran sekolah dan masyarakat sekitar. namun juga sekolah menengah kejuruan (SMK). Terutama program keahlian teknik bangunan yang ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan SMK Kemendikbud sebagai tim teknis perencana dan pengawas.   

Baca: Mendikbud Tekankan Penggunaan Tenda Darurat Hanya Sementara

Sementara keterlibatan warga sekitar sekolah dalam proses pembangunan dan renovasi, salah satunya agar warga ikut merasa memiliki sekolah tersebut. "Hal ini juga mendorong tanggung jawab dalam peningkatan kualitas bangunan yang baik," terang Khamim.

Mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud,  Indrajati Sidi, mengatakan, program pembangunan USB dan renovasi SD dengan swakelola ini perlu dilanjutkan.  "Dalam membangun ruang kelas, tidak perlu kontraktor yang rumit, dan hasilnya pun belum tentu baik serta sesuai keinginan sekolah penerima bantuan," jelas Indra.

Indra menambahkan, renovasi sekolah dengan secara swakelola ini agar diaplikasikan juga dalam renovasi sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).   Pada tahap pertama, sekolah penerima bantuan masing-masing telah menerima 70 persen dana program pembangunan USB dan renovasi SD pada Juli 2018.

"Tahap selanjutnya, berdasarkan proses pembangunan yang berjalan," ungkap Indra.

Sebanyak 39 sekolah telah menerima 100 persen dana pembangunan dan renovasi pada Oktober 2018. Sisanya, pemerintah tetap akan memperhatikan perkembangan sekolah hingga bantuan pada tahap pertama mencapai 50 persen.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id