Bali: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap proporsi lulusan bidang studi yang berkaitan dengan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) di Indonesia masih rendah. Padahal, lulusan STEM sangat dibutuhkan bagi negara berkembang menuju negara maju.
Lulusan di bidang STEM ini mencakup bidang teknik, kesehatan, pertanian, dan matematika serta ilmu pengetahuan alam (MIPA). Brian menyebut rendahnya lulusan STEM menjadi pekerjaan rumah Indonesia.
“Teknik ditambah kesehatan ditambah pertanian juga masih masuk, ditambah MIPA, itu jumlahnya kurang dari 30 persen, sekitar 28 persen,” kata Brian Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali dikutip Senin, 5 Oktober 2026.
Brian menyinggung arahan Presiden RI Prabowo Subianto agar Indonesia meningkatkan jumlah bidang pendidikan yang berkaitan dengan STEM. Kebutuhan tersebut dinilai penting karena Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga dengan keahlian sains dan teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Berarti kita harus membuat lebih banyak lagi STEM-related, yang terkait dengan STEM,” ujar dia.
Brian menjelaskan penguatan STEM juga berkaitan dengan upaya Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle-income trap. Dia mengatakan negara-negara yang berhasil keluar dari kondisi tersebut umumnya memiliki lulusan yang didominasi bidang terkait STEM dan industri.
“Semua negara yang berhasil lepas dari jebakan middle-income trap, mereka adalah negara-negara yang mayoritas lulusannya didominasi oleh pendidikan yang terkait dengan STEM, terkait dengan industri,” kata dia.
Karena itu, Brian menilai perguruan tinggi perlu memperkuat bidang-bidang yang menjadi fondasi pengembangan industri dan teknologi Indonesia. Di sisi lain, data yang dipaparkan Brian menunjukkan bidang pendidikan menjadi kelompok program studi dengan jumlah mahasiswa terbesar.
Pada 2025, jumlah mahasiswa pada program studi bidang pendidikan mencapai sekitar 3,13 juta orang. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa bidang teknik yang mencapai sekitar 1,69 juta.
Sebelumnya, Brian menyebut Indonesia memiliki 11,5 juta mahasiswa pada 2025, dengan 34.711 program studi dan 328 ribu dosen. Kondisi tersebut menunjukkan tantangan pendidikan tinggi bukan hanya meningkatkan jumlah mahasiswa, tetapi juga memastikan komposisi bidang keilmuan sesuai dengan kebutuhan pembangunan Indonesia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan