Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyayangkan hal tersebut. Dia kembali menyusuri langkah hidupnya.
Ia mengaku lebih senang menjadi seorang WNI. Walaupun sebetulnya, kesempatan menjadi WNA terbuka lebar.
Stella membuktikannya dengan mengambil pekerjaan sebagai wakil menteri di Indonesia. Meskipun, sebagai seorang profesor dan peneliti, ia memiliki gaji fantastis di Amerika Serikat dan China.
"Jujur saya gajinya berlipat-lipat, dana risetnya berlipat-lipat. Tapi (ke Indonesia) bukan tergiur jabatan ya, karena kerjanya lebih berat. Karena saya ingin mengabdi kembali kepada negara," ungkap Stella dalam Hot Room Metro TV dikutip Kamis, 26 Februari 2026.
Stella hanya ingin mengabdi dengan menjawab kepercayaan Presiden RI Prabowo Subianto terhadap amanah yang diberikan sebagai wakil menteri. Meskipun, dalam perjalanan pendidikannya, Stella tidak pernah menerima beasiswa dari Indonesia.
Baca Juga :
Langganan Beasiswa, Stella Christie Ternyata Punya Kebiasaan Menulis Surat ke Pendonornya
"Saya SMA sampai PhD itu semuanya beasiswa, meski bukan dari beasiswa Indonesia," tutur dia.
Ia menerima beasiswa mulai dari Singapura hingga Amerika. Dari studi yang dijalani itu, Stella mendapatkan gelar akademiknya hingga menjadi guru besar dari Tsinghua University, China.
Kontrovesi ini bermula dari pernyataan Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas yang bangga anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Namun, amarah publik terpantik karena ia mengucapkan: "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat,".
Pernyataan Tyas mendapat kecaman dari warga net, pasalnya ia bisa berada di luar negeri atas bantuan pendidikan dari LPDP yang merupakan uang dari pajak rakyat. Warga net lalu mengulik kehidupan Tyas.
Rupanya, suaminya, Arya Iwantoro, juga merupakan penerima LPDP dan belum menjalankan kewajiban kontribusi di Indonesia setelah lulus studi.
Belakangan, Tyas meminta maaf atas ucapannya. Dia menyadari kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai WNI.
Untuk itu, Tyas mengakui kesalahannya dan memahami dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagramnya @sasetyaningtyas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News