Guru tengah mengajarkan siswa di muka kelas. Foto: MI/Gino Hadi.
Guru tengah mengajarkan siswa di muka kelas. Foto: MI/Gino Hadi.

Segunung Masalah Pendidikan Menanti Nadiem

Pendidikan kabinet jokowi-jk beasiswa osc
Muhammad Syahrul Ramadhan • 23 Oktober 2019 11:20
Jakarta:Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengaku terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Mentei Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) periode 2019-2024 di luar dugaan publik. Mengingat latar belakang Nadiem yang bukan akademisi tulen melainkan pebisnis, kehadiran Nadiem di Kementerian yang menangani pendidikan pun kemudian menjadi sorotan.
 
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahimmempertanyakan penunjukan Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Ramli mengaku sangsi dengan pengetahuan dan kapasitas Nadiem menangani pendidikan di Indonesia.
 
Menurut Ramli, meskipun telah sukses dengan bisnis transportasi berbasis daring. Bahkan berhasil menghidupi ribuan bahkan jutaan keluarga Indonesia yang bergabung sebagai driver di Gojek.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Juga berhasil membantu mempermudah pergerakan dan mobilitas orang, makanan atau barang dalam jumlah yang sangat banyak dalam setiap harinya. Namun Ramli masih tetap meragukan kemampuan Nadiem menyelesaikan kompleksnya persoalan pendidikan di Indonesia.
 
"Tapi bisa apa Nadiem menangani dunia pendidikan kita yang payah ini?," kata Ramli di Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019.
 
Menurutnya, banyak tantangan pendidikan yang harus dihadapi jebolan Brown University, Amerika Serikat dan Harvard Business School Amerika Serikat ini. Apalagi tahun 2045 Indonesia bermimpi menjadi negara maju dengan PDB (Produk Domestik Bruto) terbesar keempat dunia.
 
Ditambah lagi 2030 adalah puncak bonus demografi Indonesia. Salah satunya skor PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia yang berada di level 0-2. "Kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading dan sains berada pada level 0-2 dan dicap bangsa Indonesia baru bisa menghadapi abad 21 setelah 1.000 tahun mendatang," ujarnya.
 
Tamatan SD lanjut Ramli, lebih dari 80 persen dinyatakan gagal Matematika dan juga gagal Literasi dan Sains. Belum lagi pendidikan vokasi, yakni SMK yang menjadi penyumbang pengangguran nomor satu di Indonesia.
 
Kemudian minimnya guru produktif dan minimnya “produksi” guru produktif yang sesuai dengan bidang keahlian di SMK. "Ini adalah gunung masalah yang cukup untuk menutup mata menteri, lalu Nadiem bisa apa. Belum termasuk masalah pendidikan tinggi yang juga penuh masalah," imbuhnya.
 
Apalagi lanjutnya, masalah guru. Ia menyebut ada kekurangan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sekolah negeri mencapai 1.141.176 orang belum termasuk 391.644 guru yang akan pensiun pada 2020 hingga 2024.
 
"Dengan kondisi tersebut, hampir bisa dipastikan bahwa pendidikan dasar dan menengah kita akan lumpuh total ketika seluruh guru honorer yang pendapatannya jauh lebih rendah dari driver gojek itu menyatakan “mogok mengajar”," ungkapnya.
 
Meski mempertanyakan pemilihan Nadiem, namun IGI, kata Ramli, meyakini Presiden mempunyai harapan besar terhadap Nadiem. "Boleh jadi setelah mencoba “Profesor” berulang kali, kini Pak Jokowi ingin memilih yang segar dan tak banyak teori," ungkapnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif