NEWSTICKER
Salah satu orangtua yang mencoba peruntungan di jalur nonzonasi tahap 1 Umum di PPDB SMAN 28 DKI Jakarta. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Salah satu orangtua yang mencoba peruntungan di jalur nonzonasi tahap 1 Umum di PPDB SMAN 28 DKI Jakarta. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Nonzonasi Jadi Harapan, Usai Zonasi dan Afirmasi Kandas

Pendidikan Sistem Zonasi PPDB 2019
Muhammad Syahrul Ramadhan • 03 Juli 2019 07:00

Jakarta: Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta jalur Nonzonasi Tahap I Umum menjadi kesempatan terakhir bagi Aan, orangtua siswa pendaftar PPDB di SMAN 28 jakarta untuk dapat menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Ia masih berikhtiar sampai kesempatan akhir, setelah sebelumnya kandas di jalur zonasi dan afirmasi.

Aan mengatakan, nilai UN anaknya sempat bertengger di SMAN 60 melalui jalur zonasi, namun nilainya terus tergeser, hingga akhirnya terpental ke SMAN 97, hingga akhirnya tidak diterima sama sekali di jalur zonasi.
 
"Sempat di zonasi dapat (SMAN) 60 terlempar, lalu (SMAN) 97 dapat terlempar juga, terlemparnya kenapa saya enggak tahu," kata Aan saat ditemui Medcom.id di SMAN 28 Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019.
 
Ia juga sempat mencoba jalur afirmasi dari suaminya yang PNS (Pegawai Negeri Sipil), usai gagal masuk jalur zonasi. Namun, minimnya informasi yang ia dapat dan waktu yang sedikit membuat harapannya menjadi pupus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dikasih waktu dua hari, kami info juga kurang paham saat dapat surat keterangan PNS dari kantor sudah tutup (pendaftaran afirmasi)," ungkapnya.
 
Aan mengatakan, dengan sistem zonasi membuatnya harus memantau terus laman PPDB untuk melihat pergerakan nilai dari beberapa sekolah. Ia juga meminta saran untuk menentukan pilihan sekolah kepada beberapa guru, agar tidak salah langkah.
 
Selain itu melihat kualitas lingkungan sekolah juga menjadi dasar bagi Aan memilih sekolah. "Makanya saya cobalah nonzonasi di SMAN 55, SMAN 82, SMAN 60 atau 66, tidak hanya grade tapi juga lingkungan gedung nyaman atau tidak, selain nilai lingkungan sekolah anak nyaman enggak," ujarnya.
 
Apabila nanti usahanya kandas untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, Aan terpaksa memilih sekolah swasta. Tetapi tak sembarang swasta, ia ingin anaknya masuk swasta yang berbasis pendidikan Islam.
 
"Swasta bukan harus mahal yang penting standar anak nyaman, manajemen bagus, jadi gurunya lingkungan nyaman saya utamakan itu. Ini terakhir nonzonasi saya coba, mudah-mudahan ada rezeki untuk anak saya," pungkas Aan.


 

(CEU, WHS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif