Salah satu sajian tumpeng dengan bentuk kerucut menjadi bagian dari tradisi yang biasa digunakan saat selamatan, maupun syukuran.
Salah satu sajian tumpeng dengan bentuk kerucut menjadi bagian dari tradisi yang biasa digunakan saat selamatan, maupun syukuran.

Ternyata, Tradisi Potong Tumpeng di Masyarakat Masih Keliru

Intan Yunelia • 02 April 2019 09:05
Jakarta:  Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan tradisi memotong tumpeng dalam kegiatan perayaan, pesta, atau syukuran.  Namun sayangnya, tradisi memotong pucuk tumpeng yang selama ini dilakukan ternyata masih keliru.
 
President of Indonesia Gastronomy Association (IGA) Ria Musiawan mengatakan, kebiasaan memotong pucuk tumpeng harus diperbaiki, karena berpotensi merusak nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalam tradisi tumpengan itu sendiri.
 
“Mari kita perbaiki kembali pemahaman yang selama ini ada tentang tradisi memotong tumpeng.  Terutama yang mencakup makna, simbol dan perlakuan tentang tumpeng yang lebih sesuai dengan budaya dan sejarah kita,” seru Ria, di Jakarta, Selasa, 2 April 2019.

Ria mengatakan, tumpeng merupakan simbol atau lambang permohonan makhluk hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Dapat juga diartikan dengan simbol hubungan antara pemimpin dengan rakyatnya.
 
"Sehingga kebiasaan memotong pucuk tumpeng dapat diartikan memotong hubungan tersebut.  Harusnya yang sesuai dengan filosofi, budaya, dan hakekatnya, tumpeng itu dikeruk," terangnya.
 
Filosofi dan falsafah tumpeng adalah lambang gunungan yang bersifat awal dan akhir.  Tumpeng juga mencerminkan manifestasi simbol sifat alam dan manusia yang berawal dari Tuhan dan kembali kepada Tuhan.
 
Nasi berbentuk kerucut ini pun menjulang ke atas, sebagai bentuk yang menggambarkan tangan manusia merapat dan menyatu menyembah Tuhan.  Tumpeng juga menyimpan harapan agar kesejahteraan maupun kesuksesan semakin meningkat.
 
"Jadi jika tumpeng dipotong, maka seolah-olah itu memotong hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sebab di pucuk yang biasa ditutupi daun melambangkan tempat bersemayam Sang Pencipta," papar Ria.
 
Ria mengatakan, baiknya tumpeng tidak dipotong melintang (horizontal) dan daun pisang di pucuk agar tidak dilepas.   "Tumpeng hanya boleh dikeruk sisi samping dari bawah, kemudian orang yang mengeruk tersebut mengucapkan doa dalam hati," ujarnya.
 
Bahkan di zaman dahulu, para sesepuh yang memimpin doa akan menjelaskan dulu makna tumpeng sebelum dikeruk dan disantap.  "Kemudian kerukan pertama diberikan pada orang yang dianggap penting, dicintai, atau dituakan," imbuh Ria.
 
Makna tersebut sesuai dengan filosofi Jawa Mikul dhuwur mendhem jero, yang bermakna agar orang yang lebih muda harus memperlakukan orangtua, pemimpin, sesepuh dengan baik.
 
Ria menambahkan bagi para gastronom memaknai tradisi menyantap makanan seperti tumpeng dan tradisi makanan lainnya di setiap daerah  memiliki fungsi sosial-budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat sesuai dengan keadaan lingkungan, agama, adat, kebiasaan, dan tingkat pendidikan.  Makanan yang disajikan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan di sekitarnya.
 
“Sebagai produk budaya, makanan tidak hanya dilihat secara fisik saat dihidangkan, tetapi dipelajari secara menyeluruh di setiap proses pembuatannya, mulai dari penyediaan dan pemilihan bahan baku, memasak, sampai menghidangkannya di meja makan sebagai rangkaian kegiatan budaya,” tutup Ria.
 
Lihat Video:  
 


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan