Ilustrasi Doa. Foto: Pexel
Ilustrasi Doa. Foto: Pexel

3 Amalan Utama yang Dianjurkan di Bulan Rabiul Awal dan Maulid Nabi

Ilham Pratama Putra • 25 Agustus 2026 14:54
Ringkasnya gini..
  • Membaca selawat merupakan bentuk penghormatan utama dan ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW di bulan Maulid.
  • Berpuasa, khususnya pada hari Senin, dianjurkan sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kelahiran Rasulullah SAW.
  • Perayaan Maulid dapat diisi dengan membaca Al-Qur'an, bersedekah, serta mempelajari sirah dan kisah kebaikan Nabi.
Jakarta: Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam. Bulan ini dikenal sebagai bulan Maulid karena menjadi waktu untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.
 
Momentum tersebut dapat diisi tidak hanya dengan memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga memperbanyak ibadah dan amal kebajikan. Sejumlah ulama menjelaskan beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
 
Melansir laman mui.or.id, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur menyebut umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa dan membaca selawat selama bulan Rabiul Awal. Selain itu, bulan Maulid juga dapat diisi dengan bersedekah, menyediakan jamuan makanan, memperbanyak amal kebajikan, serta mempelajari kisah kelahiran Rasulullah SAW.

Dalam kitab tersebut disebutkan:
 
إِعْلَمْ أَنَّهُ يُطْلَبُ فِي هَذَا الشَّهْرِ كَثْرَةُ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةُ عَلَى نَبِيِّنَا سَيِّدِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ تَعَالَى وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَزَادَهُ شَرَفًا وَكَرَمًا لَدَيْهِ. لِأَنَّ هَذَا الشَّهْرَ الْعَظِيمَ قَدْ ظَهَرَ فِيهِ الْخَيْرُ الْعَمِيمُ وَطَلَعَ فِيْهِ سَعْدُ السُّعُودِ، بِإِشْرَاقِ طَلْعَةِ نَبِيِّنَا السَّنِيَّةِ عَلَى الْوُجُودِ ...وَلَا زَالَ أَهْلُ الْإِسْلَامِ يَحْتَفِلُوْنَ بِشَهْرِ مَوْلِدِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَيَعْمَلُوْنَ الْوَلَائِمَ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ لَيَالِيَهُ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ بِهِ وَيَزِيْدُونَ فِي الْمَبَرَّاتِ، وَيَعْتَنُونَ بِقِصَّةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيمِ وَيَظْهَرُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُلُّ فَضْلٍ عَمِيْمٍ
 
Artinya, umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan tersebut. Umat Islam juga dapat memuliakan bulan kelahiran Rasulullah dengan bersedekah, menyediakan makanan, menunjukkan kegembiraan, memperbanyak amal kebaikan, dan mempelajari kisah kelahiran beliau.
 
Lantas, apa saja amalan yang dapat diperbanyak selama bulan Maulid?
 

3 Amalan Maulid Nabi yang Dianjurkan

1. Perbanyak membaca shalawat

Shalawat menjadi salah satu amalan yang dapat diperbanyak umat Islam selama Rabiul Awal. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW, shalawat juga merupakan ungkapan kecintaan kepada beliau. Perintah bershalawat tercantum dalam Alquran. Allah SWT berfirman:
 
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَه يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
 
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56)
 
Keutamaan shalawat juga disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:
 
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
 
Artinya: “Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR Ahmad)
 
Baca juga: Penuh Makna, Ini 30 Caption Maulid Nabi Cocok untuk Media Sosial  

 
Imam Abu Laits as-Samarqandi dalam Tanbih al-Ghafilin menjelaskan bahwa perintah bershalawat memiliki keistimewaan tersendiri. Ia mengatakan:
 
فَفِيْ سَائِرِ الْعِبَادَاتِ أَمَرَ اللَّهُ تَعَالَى عِبَادَهُ بِهَا، وَأَمَّا الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ صَلَّى عَلَيْهِ بِنَفْسِهِ أَوَّلًا، وَأَمَرَ مَلَائِكَتَهُ بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنْ يُصَلُّوا عَلَيْهِ، فَثَبَتَ بِهَذَا أَنَّ الصَّلَاةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْعِبَادَاتِ
 
Artinya: “Dalam berbagai ibadah lainnya, Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakannya. Tetapi dalam hal bershalawat kepada Nabi SAW, Allah terlebih dahulu bershalawat kepada beliau, kemudian memerintahkan para malaikat-Nya untuk bershalawat kepadanya, lalu memerintahkan orang-orang beriman agar turut bershalawat kepada beliau. Dari sini dapat dipahami bahwa bershalawat kepada Nabi SAW memiliki kedudukan yang sangat utama di antara berbagai bentuk ibadah.” (Tanbih al-Ghafilin, Beirut: Dar Ibn Katsir, vol. 1, h. 412)
Karena itu, Rabiul Awal dapat menjadi momentum untuk memperbanyak shalawat sekaligus memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.

2. Puasa, terutama pada hari Senin

Amalan berikutnya ialah berpuasa. Salah satu dasar yang dapat menjadi rujukan ialah kebiasaan Rasulullah SAW menjalankan puasa pada hari Senin.
 
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan alasan beliau berpuasa pada hari tersebut.
 
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ، قَالَ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ
 
Artinya: “Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab: Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu.” (HR Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengaitkan puasa Senin dengan hari kelahiran dan turunnya wahyu kepada beliau.
 
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif menjelaskan hadis tersebut sebagai isyarat mengenai anjuran berpuasa pada hari ketika seseorang mengingat kembali nikmat Allah SWT. Berikut penjelasannya:
 
وَفِي قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ: ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَتْ عَلَيَّ فِيْهِ النُّبُوَّةُ، إِشَارَةٌ إِلَى اسْتِحْبَابِ صِيَامِ الْأَيَّامِ الَّتِي تَتَجَدَّدُ فِيْهَا نِعَمُ اللهِ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ. فَإِنَّ أَعْظَمَ نِعَمِ اللهِ عَلَى هَذِهِ الْأُمَّةِ إِظْهَارُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُمْ وَبَعْثَتُهُ، وَإِرْسَالُهُ إِلَيْهِمْ... فَصِيَامُ يَوْمٍ تَجَدَّدَتْ فِيْهِ هَذِهِ النِّعَمُ مِنَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ حَسَنٌ جَمِيلٌ، وَهُوَ مِنْ بَابِ مُقَابَلَةِ النِّعَمِ فِي أَوْقَاتِ تَجَدُّدِهَا بِالشُّكْرِ
 
Artinya: “Dalam sabda Nabi SAW saat beliau ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab: Itulah hari ketika aku dilahirkan dan pada hari itu pula kenabian diturunkan kepadaku. Hadis ini mengisyaratkan anjuran berpuasa pada hari-hari ketika nikmat Allah Ta’ala kembali dikenang bagi para hamba-Nya. Sebab, di antara nikmat Allah yang paling agung bagi umat ini adalah diutus dan dihadirkannya Nabi Muhammad SAW kepada mereka sebagai rasul. Karena itu, berpuasa pada hari yang menjadi momentum datangnya nikmat tersebut merupakan amalan yang baik dan terpuji. Hal ini termasuk bentuk mensyukuri nikmat Allah pada waktu ketika nikmat itu kembali dikenang.” (Lathaif al-Ma'arif, Beirut: Dar al-Fikr, vol. 1, h. 236). Dengan demikian, puasa Senin dapat menjadi salah satu pilihan ibadah untuk mengisi bulan Maulid sekaligus menjadi bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.
 
Baca juga: Kapan Awal Puasa Ramadan 2027? Ini Perkiraan Jadwal Versi Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah  

3. Memperingati Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi juga menjadi salah satu bentuk ekspresi kegembiraan dan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW. Peringatan tersebut dapat diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti membaca Alquran, bershalawat, mempelajari kisah kelahiran dan perjalanan Rasulullah, bersedekah, hingga menyediakan makanan untuk jamaah.
 
Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Husnul-Maqshud fil-'Amal al-Maulidi menjelaskan bentuk dasar peringatan Maulid yang diisi dengan kegiatan tersebut.
 
أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنَ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطًا يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ، مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِهِ، وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْإِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشَّرِيْفِ
 
Artinya: “Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Alquran yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi SAW serta tanda-tanda yang terjadi saat kelahiran beliau. Setelah itu dihidangkan makanan untuk disantap bersama. Kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut. Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid’ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi SAW serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia.” (Husnul-Maqshud fil-'Amal al-Maulidi, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, h. 41)
 
Dengan mengisi Maulid melalui kegiatan seperti membaca Alquran, bershalawat, bersedekah, dan mempelajari sirah Nabi, peringatan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Jadi, ada sejumlah amalan yang dapat diperbanyak umat Islam pada bulan Rabiul Awal, seperti membaca shalawat, menjalankan puasa terutama pada hari Senin, serta mengisi momentum Maulid dengan berbagai amal kebajikan.
 
Baca juga: 
 
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan