Siswa SD di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, tengah belajar daring. Foto: MI/Usman Iskandar
Siswa SD di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, tengah belajar daring. Foto: MI/Usman Iskandar

Kreativitas Guru Diuji saat Menggodok Pembelajaran Daring

Pendidikan sekolah Pembelajaran Daring Pendidikan Jarak Jauh Konvergensi MGN belajar jarak jauh
Syarief Oebaidillah, Media Indonesia, MetroTV • 18 November 2020 10:51
Jakarta: Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah berlangsung sekitar sembilan bulan akibat pandemi covid-19 memiliki banyak tantangan. PJJ digelar untuk mengurangi risiko loss learning dengan tetap memberikan rasa aman dan tenteram bagi anak anak, guru, orangtua, juga masyarakat serta mempertahankan tumbuh kembang anak.
 
Untuk mengetahui lebih lanjut kebijakan ini, wartawan Media Indonesia, Syarief Oebaidillah, bersama tim Metro TV mewawancara Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jumeri, Senin, 16 November 2020. Berikut ini petikannya.
Kreativitas Guru Diuji saat Menggodok Pembelajaran Daring
Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jumeri. Foto: Dok Kemendikbud
 
Bagaimana evaluasi menyeluruh PJJ?

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kami melihat para guru belum sepenuhnya mampu mengendalikan pembelajaran secara baik, dalam arti guru-guru kita kesulitan mengelola pembelajaran ini. Kita bisa bayangkan ketika anak-anak itu ada di dalam kelas di hadapan guru, belum tentu juga mempunyai kemampuan.
 
Nah, dengan tidak bisa tatap muka guru mengalami kesulitan mentransfer pembelajaran seperti menulis, mentransfer karakter kepada anak-anak. Dalam pantauan kami di beberapa daerah yang mempunyai jaringan internet, kemudian perangkatnya ada, pulsanya ada, tetapi tetap mengalami kesulitan.
 
Apalagi daerah yang tidak ada jaringan internet, perangkatnya tidak ada, pulsanya kosong. Akibatnya, terjadi proses pembelajaran yang tidak ideal. Kondisi ini yang terjadi pada anak anak kita. Kemudian ada beberapa daerah yang tidak mempunyai akses internet.
 
Para guru juga kesulitan untuk datang satu per satu ke murid. Ini kesulitan yang kami deteksi di lapangan. Namun, banyak juga kemajuan bagi guru dan sekolah sekolah kita, mereka mulai belajar dan mampu mengembangkan pola pola pembelajaran secara daring yang masif.
 
Guru-guru berinteraksi dengan murid-murid mereka kemudian sangat respons terhadap pembelajaran yang diberikan guru. Memang hal ini belum banyak, sebagian besar masih melaksanakan secara monoton dengan pola daring.
 
Apa yang menjadi titik krusial PJJ?
 
Titik krusial pada akses, di daerah-daerah zona hijau masih 50% pembelajaran tatap muka. Padahal, harusnya bisa lebih banyak yang tatap muka karena ada faktor psikologis yang dihadapi pemerintah daerah, kepala sekolah, dan guru untuk tidak segera memulai pembelajaran tatap muka.
 
Kedua, kepemilikan perangkat serta keterbatasan bahan belajar yang di miliki sekolah. Juga aspek lain kemampuan orangtua untuk mendampingi murid-murid terbatas waktunya. Lalu, orangtua tidak mampu memahami pelajaran.
 
Bagaimana Anda melihat tugastugas sekolah yang diberikan guru kepada siswa, apakah memang banyak membebani para siswa?
 
Semestinya para guru bisa merancang pembelajaran lebih sederhana yang menyenangkan anak didik yang tentu dibutuhkan mereka, tetapi kita menyadari untuk bisa menghasilkan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak membutuhkan kemampuan dan kreativitas para guru kita. Para guru sudah mengalami tekanan karena kondisi pandemi ini.
 
Saya mempunyai keyakinan semakin hari kita akan semakin baik dengan proses mutu dari pengajaran dari guru-guru kita. Mungkin saat tahap awal pandemi pada tiga bulan pertama banyak guru yang kaget menghadapi pandemi dan pembelajaran dari rumah atau daring.
 
Kemudian, tahap kedua para guru sudah banyak belajar pada kondisi ini. Berikutnya tahap ketiga pada bulan ketiga, ada intervensi negara berupa pemberian paket pulsa. Kemudian relaksasi BOS para guru mulai banyak yang lebih siap.
 
Maka, harapan kami mendorong para guru mampu kreatif dalam menyusun rencana pembelajaran di masa pandemi. Memang hal ini tidak mudah, membutuhkan keterampilan. Namun, ketika kita melatih guru-guru dengan keterampilan juga ada keterbatasan, keterbatasan di dalam tatap muka. Berikutnya perangkat guru yang di miliki tidak lengkap untuk bisa melaksanakan pembaruan-pembaruan pembelajaran secara paripurna.
 
Kabarnya sedang digodok pembahasan rencana pembelajaran tatap muka pada 2021?
 
Rencana ke depan untuk pembelajaran tatap muka, kami mencoba pada 2021 melalui revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) baru untuk kami terbitkan guna merelaksasi pembelajaran. Hal ini melalui rancangan berbasis pada kesiapan ke sekolah.
 
Penerapannya kami akan mengabaikan zona wilayah itu (hijau, oranye, atau merah), tetapi menilik pada kesiapan sekolahnya. Kendati sekolah itu ada di zona merah, bisa saja ada orang-orang yang disiplin pada protokol kesehatan.
 
Para guru mempunyai cara untuk mendisiplikan murid-muridnya. Jadi, kami berfokus pada kesiapan sekolah. Nah, itu kuncinya, kedisiplinan pada protokol kesehatan.
 
(UWA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif