Ilustrasi hujan. Medcom.id
Ilustrasi hujan. Medcom.id

Mengenal Fenomena El Nino dan La Nina: Definisi, Proses, Dampak

Pendidikan hujan cuaca ekstrem Fenomena Alam La Nina Mata Pelajaran Geografi
Medcom • 28 April 2022 18:09
Jakarta: Sadarkah Sobat Medcom, musim di Indonesia akhir-akhir ini tak lagi sesuai dengan sebagaimana mestinya. Musim hujan, semisal, idealnya berhenti pada Februari, namun hujan masih terus turun hingga April.
 
Salah satu penyebab tingginya curah hujan ini ialah El Nino dan La Nina. Keduanya merupakan fenomena cuaca yang berkaitan dengan perubahan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik.
 
Meski terlihat mirip, El Nino dan La Nina memiliki perbedaan. Berikut masing-masing penjelasannya yang dikutip dari Zenius, mulai dari definisi, proses, hingga dampak:

Definisi El Nino

El Nino adalah fenomena meningkatnya suhu Samudra Pasifik bagian timur. Ini menyebabkan air permukaan laut yang lebih hangat bergeser dari bagian barat Samudra Pasifik (dekat Papua, Indonesia) ke arah timur (dekat Peru, Amerika Selatan).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ciri-ciri El Nino, yakni suhu udara meningkat dibandingkan dengan suhu normal, curah hujan rendah di dekat Papua, curah hujan tinggi di dekat Peru, dan angin pasat dari arah timur melemah. Hal ini karena angin yang seharusnya bergerak dari Peru ke Papua (dalam kondisi normal) menjadi bergerak dari Papua ke Peru.

Definisi La Nina

La Nina adalah fenomena menurunnya suhu Samudra Pasifik bagian timur. Ini menyebabkan permukaan air laut yang lebih hangat bergeser dari bagian timur Samudra Pasifik (dekat Peru) ke arah barat (dekat Papua).
 
Ciri-ciri La Nina, yakni suhu udara menurun dibandingkan dengan suhu normal, curah hujan tinggi di dekat Papua, curah hujan rendah di dekat Peru, dan angin pasat ke arah barat menguat. Angin tersebut searah dengan kecepatan dalam kondisi normal.

Proses Terjadinya El Nino dan La Nina

Proses terjadinya El Nino dan La Nina tak terlepas dari interaksi antara laut yang dilewati garis khatulistiwa dan atmosfer di atasnya. Permukaan air laut yang dilewati garis khatulistiwa itu disebut sebagai kolam panas lantaran bersuhu hangat, yakni di atas 28 derajat celcius sepanjang tahun.
 
Sebelum membahas proses terjadinya  El Nino dan La Nina secara rinci, ada baiknya memahami kondisi normal terlebih dahulu. Dalam keadaan normal, bagian Samudra Pasifik yang dilewati khatulistiwa dan dekat dengan Papua akan memiliki kolam panas, di mana suhu sekitarnya lebih hangat.
 
Ketika permukaan air laut di situ lebih hangat, atmosfer di atasnya bakal terpengaruh. Alahasil, suhunya meningkat dan tekanan udara menjadi rendah.
 
Sebaliknya, suhu permukaan air laut di dekat Peru rendah dan tekanan udaranya tinggi. Alhasil, angin pasat pun bergerak dari Peru ke Papua, sebagaimana hukum alam yang menyatakan angin bertiup dari wilayah bertekanan udara tinggi ke wilayah bertekanan udara rendah.
 
Selama melewati Samudra Pasifik, angin pasat membawa uap air yang lantas membentuk awan di atas kolam panas. Semakin banyak uap air yang dibawa, makin banyak pula awan yang terbentuk hingga terjadilah hujan.
 
Kondisi yang demikian tentu akan berbeda ketika El Nino dan La Nina menyerang. El Nino terjadi saat kolam panas yang ada di bagian tengah-barat, dekat Papua, bergeser ke bagian timur Samudra Pasifik.
 
Fenomena itu membuat suhu udara di bagian barat (Papua) menjadi rendah dan tekanan udaranya tinggi. Sebaliknya, di bagian timur (dekat Peru), suhunya meningkat dan tekanan udaranya rendah.
 
Alhasil, angin pasat pun bergerak dari dekat Papua menuju Peru dengan membawa uap air. Nantinya, uap air itu berkumpul menjadi awan di atas kolam panas dekat Peru, sehingga terjadilah musim penghujan di wilayah tersebut.
 
Sementara itu, La Nina terjadi ketika kolam panas yang ada di bagian tengah-barat Samudra Pasifik bergeser ke wilayah barat. Sehingga, kolam panas berkumpul di dekat Papua.
 
Fenomena itu membuat suhu udara di bagian barat (dekat Papua) menjadi tinggi dan tekanan udaranya rendah. Sebaliknya, di bagian timur (dekat Peru), suhu udaranya rendah dan tekanan udaranya tinggi.
 
Angin pasat kemudian bergerak dari dekat Peru menuju ke dekat Papua. Uap air yang dibawa angin pasat membentuk awan di atas wilayah kolam panas dekat Papua, sehingga menghasilkan hujan di wilayah tersebut.

Dampak El Nino dan La Nina bagi Indonesia

Meski terdengar sepele, nyatanya El Nino dan La Nina membawa dampak merugikan bagi Indonesia. Di antaranya mengalami kekeringan dan terkena banjir, merebaknya berbagai penyakit, gagal panen, hingga mahalnya biaya melaut.
 
Berikut masing-masing penjelasan dampak negatif El Nino dan La Nina bagi Indonesia:

1. Mengalami kekeringan saat El Nino

Ketika El Nino terjadi, curah hujan di Indonesia menjadi rendah. Sebab, suhu udara di bagian barat Samudra Pasifik (dekat Papua) lebih panas, sehingga musim kemarau menjadi lebih lama.
 
Alhasil, sejumlah wilayah Indonesia yang berada di garis khatulistiwa mengalami kekeringan. Daerah tersebut antara lain Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

2. Terkena banjir saat La Nina

Berbanding terbalik dengan El Nino, La Nina membuat curah hujan di Indonesia meningkat. Alhasil, musim penghujan menjadi lebih lama.
 
Ini menyebabkan ketersediaan air meningkat, sehingga terjadi banjir di wilayah yang berada di garis khatulistiwa.

3. Merebaknya berbagai penyakit

Kekeringan akibat El Nino maupun banjir akibat La Nina menyebabkan berbagai penyakit merebak, seperti diare, kolera, dan leptospirosis.
 
Selain itu, curah hujan yang tinggi karena La Nina juga membuat udara lebih lembap dan dingin. Akibatnya, warga Indonesia berpotensi terkena flu, Demam Berdarah Dengue (DBD), Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan penyakit kulit.

4. Gagal panen

Baik El Nino maupun La Nina, keduanya sama-sama merugikan produksi pertanian. Bagaimana tidak, fenomena kekeringan akibat El Nino dapat berdampak pada rusaknya tanaman pertanian karena kekurangan air.
 
Di samping itu, fenomena banjir yang disebabkan La Nina juga berimbas pada rusaknya tanaman pertanian. Sebab, kelembapan udara dan curah hujan yang tinggi memicu peningkatan hama dan banjir.

5. Biaya melaut jadi lebih mahal

El Nino dan La Nina disebut dapat membuat biaya melaut jadi lebih mahal. Sebab, nelayan harus menemukan tempat baru ikan-ikan yang berpindah karena perubahan suhu air.
 
Demikianlah pembahasan mengenai El Nino dan La Nina, salah satu materi geografi yang
muncul dalam soal UTBK-SBMPTN. Semoga bermanfaat, ya! (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Mengapa Gempa Bumi Bisa Terjadi? Ini 4 Penyebabnya!
 
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif