“Kita juga sampaikan ke dosen-dosen bahwa kalau berhadapan dengan mahasiswa itu sejam boleh lah setengah jam itu menyampaikan dan transfer ilmu pengetahuan kemajuan ilmu pengetahuan dan kompetensi inti,” kata Ninok di Jakarta, Senin 12 Agustus 2019.
Pasalnya, kata Ninok tantangan ke depan tidak cukup mengandalkan lembar ijazah dan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Perkembangan teknologi yang begitu pesat menuntut generasi masa depan lebih adaptif terhadap tantangan.
“Karena Revolusi Industri 4.0 itu mensyaratkan bahwa mahasiswa itu ijazah nomor dua. Tapi yang penting menjadi insan pembelajar. Karena jenis pekerjaan yang nanti muncul kira-kira lima atau tujuh tahun lagi belum terlihat dari sekarang,” ujar Ninok.
Ia mengakui bahwa nantinya akan banyak pekerjaan yang tergantikan dengan adanya Revolusi Industri 4.0. Namun, diprediksi akan muncul lebih banyak lagi jenis pekerjaan baru. Setidaknya menurut Ninok 200 pekerjaan akan hilang 5 atau 10 tahun lagi dan akan muncul 500 pekerjaan baru.
“Kita sudah punya feeling bahwa sejumlah pekerjaan yang repetitive akan dikerjakan oleh robotics. Karena Revolusi Industri 4.0 itu kan cirinya kecerdasan buatan, robotika, internet of things. Ciri-ciri itulah nanti yang memunculkan pekerjaan baru,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News