Rektor UNY Sutrisna Wibawa mengatakan, pihaknya memberikan beasiswa Pascasarjana di bidang Linguistik Terapan kepada lulusannya yang akrab disapa Lala itu. "Kami sudah sampaikan hal ini pagi tadi. Linguistik Terapan karena sejalan dengan ilmu yang Lala pelajari di S1. Bakat dan prestasinya tidak boleh disia-siakan," kata Sutrisna dalam jumpa pers di UNY Yogyakarta, Selasa, 3 September 2019.
Pemberian beasiswa kepada Lala bukanlah hal pertama. Sebelumnya UNY kerap memberikan beasiswa kepada mahasiswa lain yang juga berkebutuhan khusus. Pemberian beasiswa ini dilakukan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh para siswa berkebutuhan khusus.
Namun bagi Lala yang memiliki kebutuhan khusus dalam hal intelegensi, sistem perkuliahan akan sedikit berbeda. UNY memperbolehkan Lala untuk mengambil Sistem Kredit Semester (SKS) perkuliahan melebihi mahasiswa pascasarjana lainnya.
"Lala boleh ambil SKS lebih banyak. Misal normalnya 20 SKS. Dia boleh ambil 24 sks. Dosen kami siap mendampingi," tegas Sutrisna.
Lala terlahir sebagai anak genius jenis Poligot. Ia memiliki Intellegence Quotient (IQ) 145 dan saat ini menguasai empat bahasa asing, yakni Jerman, Inggris, Prancis, dan Jepang.
Namun ia divonis oleh dokter sebagai anak berkebutuhan khusus “Gifted” karena kesulitan dalam berkomunikasi. Lala baru saja diwisuda jenjang strata satu Pendidikan Bahasa Jerman dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Sabtu 31 Agustus 2019. Ia menjadi lulusan termuda, karena menjadi sarjana di usia 19 tahun.
Lala menyambut positif pemberian beasiswa S2 ini. Namun ia dan keluarga masih akan mempertimbangkan tawaran ini. Pasalnya Lala sudah berencana untuk melanjutkan studi S2 di Amerika.
Ia kini sedang mencari beasiswa untuk bisa kuliah ke luar negeri.
"Saya berencana ambil pendidikan anak-anak gifted di Amerika. Lalu saya ingin mengembangkan pendidikan anak-anak gifted di Indonesia. Karena saya lihat belum banyak ahli dan pembelajaran pendidikan anak gifted di sini," katanya.
Lala melanjutkan, usai mengambil pendidikan S2, ia ingin bekerja di bidang sosial. "Cita-cita saya adalah memperkenalkan budaya Indonesia dan juga mengajar di daerah pinggiran," kata Lala.
Dirinya juga berkeinginan untuk memacu para anak-anak bertalenta khusus (gifted) agar lebih percaya diri dan mau terlibat untuk negara dan sesama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News