Kepala Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska), Rusprita Putri Utami, menyampaikan bahwa pengembangan talenta murid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk bertumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki.
“Setiap murid memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang perlu dikenali, dikembangkan, dan diberikan ruang untuk bertumbuh agar mampu mencapai potensi terbaiknya. Semoga adik-adik meraih prestasi yang membanggakan di ajang Young Inventors Challenge,” ujar Rusprita.
Persiapan menuju ajang YIC 2026 dimulai melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI yang terdiri atas 24 murid sebelumnya mengikuti pra pembinaan YIC 2026 pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta. Dalam kegiatan tersebut, para murid mempresentasikan hasil penelitian OPSI 2025 dan proposal dengan format YIC, memperoleh pendalaman penyempurnaan proposal riset, penguatan visualisasi produk, serta pendampingan dari pembina dan alumni YIC.
Lebih lanjut, para murid mengikuti pembinaan tahap I dan tahap II YIC. Dari proses pembinaan tersebut, sebanyak delapan tim lolos sebagai 32 besar finalis. Para murid membawa beragam gagasan penelitian yang mengangkat pemanfaatan teknologi, kesehatan, lingkungan, pertanian, dan solusi bagi masyarakat. Presentasi dan wawancara utama (online viva session) YIC diselenggarakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
8 tim delegasi Indonesia di YIC 2026
- Tim PORTIS, Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky dari SMA Negeri 1 Sumenep, dengan penelitian DRAVIS: The Use of Drone Surveillance Equipped with YOLO Computer Vision Framework for Monitoring and Detecting Illegal Fishing, yang mengembangkan pemanfaatan teknologi drone untuk memantau dan mendeteksi praktik penangkapan ikan ilegal.
- Tim Tirto’s User, Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya dari SMA Negeri 2 Ponorogo, dengan penelitian Integrated and Automatically Controlled Irrigation System (TIRTO) for Rice Fields Based on Artificial Intelligence, yang mengembangkan sistem irigasi sawah terintegrasi dan otomatis berbasis kecerdasan artifisial.
- Tim AGRITEVO, Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, dengan penelitian AGRITEVO: Internet of Things (IoT)-Based Rice Seedling Incubator Powered by Solar Energy, yang mengembangkan inkubator kecambah padi berbasis Internet of Things (IoT) dengan dukungan energi surya.
- Tim ChemisTwin, Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo dari SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur, dengan penelitian NANOVA: Ecofriendly Cellulose Nanocrystals (CNC)-SiO₂-PDMS Superhydrophobic Coating for Robust Steel Protection, yang mengembangkan pelapis superhidrofobik ramah lingkungan untuk perlindungan material baja.
- Tim SCAB, Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni dari SMA Negeri 6 Yogyakarta, dengan penelitian EnviroSmart Device: Smart Guidance and Emergency Device for Visually Impaired, yang mengembangkan perangkat pemandu cerdas dan pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
- Tim AKU DAH LUPA, Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah dari MAN 2 Kota Malang, dengan penelitian AlzScan: An Alzheimer’s Disease Detection System Using EfficientNetV2 and Multi-Head Self-Attention on MRI Images, yang mengembangkan sistem pendeteksi penyakit Alzheimer melalui analisis citra MRI berbasis web.
- Tim SYFORCE, Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto dari MAN Insan Cendekia Pekalongan, dengan penelitian SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis, yang mengembangkan perangkat pakai untuk mengukur kelengkungan tulang belakang menggunakan sistem fusi sensor.
- Tim DewaCerva, Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib dari SMA Negeri 8 Jakarta, dengan penelitian DewaCerva: Lipid-Polymer Hybrid Nanoparticles (LPNs) of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Leaf Extract for Cervical Cancer Therapy with Evaluation of p53, AKT and mTOR Pathways, yang meneliti potensi formulasi nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru dalam penelitian terapi kanker serviks.
Salah satu pelajar Indonesia di Young Inventors Challenge (YIC) 2026.
Koordinator Pembina YIC 2026, Abu Amar dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), mengapresiasi upaya dan kerja keras para murid yang mengikuti rangkaian pembinaan hingga berhasil melaju ke tahap 32 besar YIC 2026. Ia berharap capaian tersebut dapat berlanjut dengan hasil terbaik pada pengumuman pemenang yang dijadwalkan pada November mendatang.
“Alhamdulillah untuk tahun ini luar biasa. Pada pra pembinaan, sebanyak 12 tim diseleksi menjadi sembilan tim. Selanjutnya, penelitian dari kesembilan tim dikirimkan dan sebanyak delapan tim berhasil melaju ke tahap 32 besar. Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan saat pengumuman pemenang pada bulan November mendatang mendapatkan hasill terbaik,” jelas Abu Amar.
Keikutsertaan delegasi Indonesia dalam YIC 2026 menjadi bagian dari implementasi Manajemen Talenta Murid, yang mendorong pengembangan potensi melalui tahapan identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan pemanfaatan talenta. Pengalaman mengikuti kompetisi internasional diharapkan dapat memperkuat kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterampilan murid dalam menyampaikan gagasan ilmiah.
Muhammad Rijal dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan (Tim AGRITEVO), menerangkan penelitiannya yang bermanfaat untuk petani. “Penelitian kami mengembangkan inkubator untuk menyemai kecambah benih padi. Tujuannya untuk meminimalisir kegagalan para petani dalam tahap penyemaian benih padi. AGRITEVO kami rancang dengan solar panel, ESP32, sensor kelembaban tanah, dan sensor suhu,” jelas Rijal.
Pengalaman mengesankan selama mengikuti pembinaan disampaikan oleh Fachry Bahtiar Rahadiansyah dari MAN 2 Kota Malang (Tim AKU DAH LUPA). “Pembinaan ini sangat seru dan bermanfaat untuk kami, khususnya dalam persiapan untuk berkompetisi di ajang Young Inventors Challenge,” ujarnya.
Sebagai informasi, Young Inventors Challenge merupakan ajang penelitian internasional yang diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI) untuk mendorong kolaborasi murid sekolah menengah dalam menghasilkan produk dan solusi inovatif terhadap berbagai persoalan, termasuk yang relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).